Tuhan Menyapa.

Saya pikir tahun ini akan menjadi tahun yang menyenangkan dan membanggakan untuk karir saya, tapi ternyata tidak (Lagi-lagi mengeluh). Bukan tidak. Mungkin Belum. Beberapa waktu lalu, waktu saya mengakhiri kontrak kerja, saya merasa kedepannya akan sangat sulit. Melihat memang begitu kenyataannya. Susah mendapatkan pekerjaan yang sesuai karena berbagai faktor eksternal yang sulit untuk ditoleransi. Continue reading “Tuhan Menyapa.”

Advertisements

#29 Lebih Peka Soal Bahagia

Di postingan sebelumnya saya menulis dengan asal-asalan dan tidak terlalu bersemangat dengan penambahan usia #29 ini. Namun setelah saya melawati hari itu, banyak hal yang seharusnya saya syukuri. Tidak perlu terfokus pada hal yang jeleknya. Memang, jelang usia 29 ini perjalanan karir saya tidak bagus, pekerjaan sebagai Clinic Manager tidak berumur panjang. Hanya satu bulan lebih beberapa hari saja. Bukan karena kualitas kerja saya tidak baik atau perusahaan tak sehat, tapi ada satu dua hal yang sangat bertentangan dan tidak bisa saya toleransi, karena saya juga memikirkan kenyamanan pekerja senior atau orang-orang lama. Tapi setidaknya selama satu bulan itu saya boleh bersyukur, dipertemukan dengan orang-orang yang berpotensi untuk mengubah sedikit tentang sifat keras saya. Continue reading “#29 Lebih Peka Soal Bahagia”

#29

4 Agustus 2017 Welcome 29!!! Usia muda gak muda, tua gak tua. Untuk penambahan umur kali ini gue ga terlalu bersemangat. Karena  lagi berada dalam posisi penurunan kualitas hidup. Karir gue tidak berjalan dengan baik, apalagi urusan percintaan. Tapi gue tetap bersyukur sama Tuhan yang masih mengizinkan gue melewati 28 tahun terakhir ini dengan orang-orang yang masih sangat peduli dengan gue. Continue reading “#29”

Ayah Datang

Hari ini ayah datang. Aku tak sebahagia biasanya. Padahal jarang-jarang ayahku bisa berkunjung kesini. Sudah setahun ini aku tidak bertemu ayahku. Ia datang berkunjung lantaran kakak tertuaku mau tunangan. Hari ini ayah datang. Aku tak sebahagia biasanya. Ia datang saat keadaanku sedang terpuruk. Tidak ada yang bisa aku banggakan, dan mata yang kecewa itu terus menghantuiku.

Surat Balasan

Apa kabar? Aku terpaksa mengirimkan surat ini, supaya kamu paham bahwa Aku memperhatikan kamu.

Kemarin Aku melihatmu berbincang-bincang dengan teman-temanmu. Sepanjang hari Aku menunggu, berharap kamu akan menoleh kepadaKu dan mengajakku berbincang. Hari ini Aku melihatmu berkeliling, kamu melewati rumahKu, tapi kamu tidak mampir. Ada yang bilang kalau kamu akan ke laut sore ini, Aku memberimu senja untuk menutup harimu dan angin sepoi-sepoi untuk menyejukkanmu. Tapi yang Kudapati kamu malah tenggelam dalam lamunan senja, membuat sebuah potret, dan berharap ada cirrus yang menghiasi langit. Namun maaf, Aku lupa menambahkannya pada senja.

Aku sangat sedih, kamu mengambil langkah menjauh dariKu, mungkin aku membuat kesalahan, sehingga kamu enggan berbicara denganKu lagi. Aku menyesal memberikan keadaan ini untukmu, Aku pikir dengan begini kamu akan datang padaKu, walaupun hanya untuk memaki.

Seandainya saja kamu mau mendengarkan Aku. Aku sangat mencintaimu. Aku berusaha menyatakannya lewat langit biru yang kamu sukai, aroma rumput hijau yang sering kali kamu hirup dalam-dalam. Aku membisikkannya pada dedaunan dan menghembuskannya lewat bunga warna- warni di depan pagar rumahmu. Aku menyelimuti malammu dengan jubahKu, membangunkanmu dengan kasihKu. KasihKu padamu lebih besar dari kebutuhan yang ada dalam hatiMu.

Bicaralah padaKu, tak perlu lagi menunggu purnama keduabelas.

Continue reading “Surat Balasan”

“Boss from Hell”

0e54c65a9f0fc1e84f9c9a7539ffb191

Judul di atas hanyalah fiktif belaka, boss saya sebelumnya dari rahim ibunya.

Okey, setelah dua bulan saya menganggur, akhirnya saya putuskan untuk ngepost cerita ini. (Ga ada hubungannya sih, berapa bulan nganggur dengan posting).

Semenjak masa percobaan saya dihentikan, saya kembali cari kerjaan lagi, sudah ada beberapa interview tapi masih belum pas. Jadi akhirnya saya kembali mencoba aktif ngeblog. Continue reading ““Boss from Hell””

Sabtu Bersama Dee

Sabtu, 14 Mei lalu saya putuskan untuk ikut seminar kepenulisan bersama Dee Lestari  (@DeeLestari)  yang diadakan di ITS. Cukup bayar Rp.75.000 saya sudah bisa mendapat berbagai ilmu dari Dee. Pada tiket masuk tertulis jam mulai pukul 8 pagi. Saya sudah paham betul kebiasaan orang-orang, acara molor hingga 2 jam. Jam 10 baru talkshow dimulai. Sebelum talkshow, dari panitia mengadakan kuis untuk memenangkan kesempatan foto bersama Dee, dan saya mendapatkan kesempatannya. Tapi percuma sampai saat ini saya belum menerima foto itu, dan terlepas dari masalah ini lebih baik saya berbagi pengetahuan apa yang saya dapatkan. Continue reading “Sabtu Bersama Dee”