Satu Malam di Kota Tua.

Sebenarnya aku sudah sangat lelah, flu ini menambah beban pada kepalaku, rasa kantuk pun tak segan menggelayuti mataku. Tapi malam ini aku ingin tetap terjaga.

Aku menikmati perjalanan, taksi melaju membawa kami ke kota tua. Malam ini aku tak ingin sendiri atau aku akan menangis. Aku rindu ayahku, aku ingin melihat senyum dari pria pendiam itu.

Membiarkan keramaian mengambil alih, mengisi pandanganku, hiruk pikuk bersenandung pada pendengaranku, dan dinginnya malam membelai Β perlahan menusuk kulitku.

Aku terus berceloteh, bercerita tentang apa saja. Dia menyimak, mungkin juga dia mulai bosan. Aku menyita waktu.

Sisa malam berlalu tanpa terasa, aku tertidur di pangkuannya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s