2016 : Sebuah Perenungan

Ketika tahun mulai mendekati masa kritis, dan siap diganti dengan yang baru, aku bertanya pada diri sendiri, Apa yang sudah aku lakukan sepanjang tahun 2016.

 

2016, awal januari lalu nenekku dipanggil kembali ke rumah Tuhan. Beliau menutup usia pada umur 92 tahun. Dia pergi dalam keheningan malam. Mungkin aku yang yang membuat keributan pada saat dia pergi. Aku dan pembantuku berusaha membangunkannya, aku memanggil-manggil dia supaya bangun. Tidak ada jawaban, aku tdak berhenti, aku terus memanggil. Aku bertanya dalam hati “Tuhan, apakah Kau telah menjemputnya?”. Aku tidak berani menyatakan dia meninggal, aku memanggil dokter dari rumah sakit terdekat, sesaat setelah itu dokter menyatakan hari dan jam kematiannya. Aku tidak menangis, bahkan saat kremasinya. Setelah nenekku berpulang, pembantuku berhenti bekerja, pikirku tak masalah, pembantuku juga sudah tua, baiklah  dia beristirahat di kampungnya.  Dan tak terasa sekarang sudah satu tahun nenekku berpulang, dan sudah satu tahun pula aku hidup sendiri tanpa pembantu.

 

Sekitar pertengahan bulan Maret 2016, aku memutuskan untuk memberi makan anjing liar yang ada di perumahanku. Tidak tahu jenis apa mereka, hanya saja kasihan kalau melihat mereka harus mengorek-ngorek sampah. Dan suatu ketika, pas aku pulang dari belanja mengendarai motor, dua ekor anjing betina itu langsung mengikutiku pulang. Sejak saat itu mereka berkeliaran dekat dengan gang perumahanku. Dua ekor anjing itu kuberi nama Roma dan Taro. Beberapa waktu berlalu, muncul satu lagi anjing jantan Michael namanya.Michael ini usut punya usut pemiliknya pindah ke Jakarta dan dia kabur. Naas! Michael mengawini Roma dan Roma pun hamil. Dan beredar rumor bahwa anjing-anjing ini cukup menganggu warga dan akan dipukul mati untuk jadi santapan. Singkat cerita aku berhasil mengulur waktu sampai Roma melahirkan dan mendapat foster. Sementara Taro diadopsi oleh tetanggaku sediri. Michael? dia memang suka kabur. Hikmah yang aku dapat dari memberi makan dan menampung anjing liar ini, aku jadi lebih tahu karakter manusia.

Awal bulan april 2016, adalah hari yang mengejutkan buatku. Dimana aku tengah menikmati pekerjaanku menulis sebuah artikel untuk salah satu harian besar di Surabaya, tiba-tiba atasanku memberikan gajiku dan memintaku berhenti bekerja. Duniaku runtuh. Kehilangan pekerjaan yang kau cintai tanpa kau tahu kesalahan apa yang kau perbuat, tidak bisa protes, karena tidak ada hitam diatas putih. Dari sini aku belajar sungguh, harus lebih peduli dengan silsilah perusahaan. Pesan terakhir dari atasanku “Semua orang tidak bermasalah dengan kamu, kerjaan kamu juga tidak bermasalah. Tapi ada beberapa hal yang harus kita perbaiki sistem dan ekonomi. Saya minta maaf kalau ada salah, kamu pasti akan lebih sukses di luar sana“

Aku keluar dari ruangan, dan kembali ketempatku. Beberapa partner kerjaku menangis mendengar berita ini.  Aku membereskan barang-barangku sambil disaksikan oleh partnerku yang terisak. Dan sampai saat ini aku masih berusaha mencari pekerjaan. Karena tak mudah jika kau harus  membiayai hidup tanpa penghasilan. Uang tabungan ada batasnya untuk diandalkan. Sejujurnya aku tidak tahu apa yang menyebabkanku sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Keadaan ini berimbas pada kehidupan rohaniku. Tidak mengandalkan Tuhan. Apalagi aku semakin stress ketika adik bungsu ku bertanya “Bagaimana kehidupan kau selanjutnya?“. Aku menjadi fakir miskin. Kurang lebih setelah 4 bulan aku menganggur, aku tak bisa lagi menanggung finansial untuk kebutuhan rumah, akhirnya aku meminta bantuan kepada orang tuaku. Tak banyak. Hanya secukupnya. Untuk makan sehari-hari aku dan adikku. Akupun meninggalkan dunia gemerlap. Menjadi jarang bergaul. Karena malu tidak punya pekerjaan. Dan sekali lagi aku sampai saat ini masih berusaha mencari pekerjaan, beberapa perusahaan sudah memaggil interview. Mudah-mudahan ada kabar baik.

September 2016, kakak tertuaku bertunangan. Ayah dan ibuku datang lantaran lamaran. Sebenarnya aku tak terlalu suka, karena mereka datang pada saat kondisiku tak beruang. Mereka tidak mempersoalkan itu sebenarnya, Cuma saja aku anak yang memiliki gengsi tinggi, menganggap itu sebuah masalah. Tapi tak mengapalah, orang tuaku datang untuk sesuatu yang membahagiakan. Dan bulan november lalu kakakku menikah. Sepertinya orang tua ku bahagaia bukan buatan. Acara tidak terlalu meriah, cukup sederhana, karena kampung halamanku adalah sebuah kota kecil di Sumatera. Pada acara spesial ini aku menjahitkan baju pada sahabatku, tapi sayang hasilnya sungguh mengecewakan. Jelek.

Waktu hari H pernikahan, kakaku dan calon istrinya melangsungkan pemberkatan di gereja kecil di kotaku, seorang romo yang sudah seperti sahabat keluarga kami yang memimpin prosesi pemberkatan nikah. Setelah itu malamnya pesta yang dihadiri oleh para undangan yang kebanyakan saudara/ famili sendiri. Percayalah, kotaku itu sangat kecil, jadi yang dulunya hanya kenalan, sekarang menjadi famili karena hubungan pernikahan saudara yang lain. Pada saat pesta, ayahku memberi kata sambutan. Dia menggunakan jas terbaiknya, sepatu kulit pilihan yang baru dia beli. Mengeluarkan secarik kertas dari saku jasnya, dan mulai berbicara dalam bahasa mandarin lalu diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Aku melihatnya, seorang pria paruh baya yang tak banyak bicara ini, ternyata bisa memberi  kata sambutan untuk para tamu, ya walaupun sedikit terbata dan adikku berbisik “ Papa grogi“. Acara malam itu ditutup dengan kebahagiaan. Ayah dan Ibuku merasa lega.

Oktober 2016, pada saat Jakarta yang didera demo besar, temanku meninggal. Kanker. Dan rasanya tak hanya kanker, tapi ada komplikasi lainya. Aku mengikuti proesi tutup petinya. Ayahnya datang dari Medan, dan tangisku terpecah lebih keras tatkala aku melihat ayahnya terdiam di samping peti anaknya dan menangis. Aku selalu tak mampu melihat tangisan seorang ayah.

Dan berita tidak enak menutup akhir tahun, anjingku si Dogi katanya terkena virus Parvo, tidak bisa disembuhkan dan satu-satunya jalan adalah suntik mati. Tapi sampai sekarang belum disuntik, aku rasa Tuhan memberikan mukjizat pada Dogi.

 

Apa acara kalian saat malam pergantian tahun lalu? Aku tidak kemana-mana. Tidak ada ajakan juga. Aku hanya berdiam di rumah sendiri, sebelum itu aku rumah doa. Merenungi hal-hal sepanjang tahun 2016 ini.  Sedih, baik, bahagia, duka cita. Semua hal. Termasuk kecenderunganku yang menjauhi Tuhan karena merasa Ia tidak menolongku. Selama aku menganggur ini, entah berapa banyak umpatan yang aku layangkan untukNya (Jawaban dari pertanyaan “Apa yang sudah aku lakukan sepanjang tahun 2016?“ Dan aku sadar, aku membutuhkan Dia lebih dari pada sebelumnya. Berharap tahun 2017 ini diberi kemudahan untukku dan kita semua. Berkecukupan untuk segala sesuatu dan jangan pernah berhenti untuk saling tolong menolong. Menolonglah tanpa pamrih. Mengingat isu-isu keagamaan semakin mengerikan. Aku pastikan, jika kalian berbuat baik, orang-orang tak akan bertanya apa agamamu. Dan keyakinan kalian tidakmenjadi sesuatu yang krusial ketika kalian berbuat kebaikan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s