Tante Merry

Entah kapan aku mulai mengenal dia, dan entah berapa lama aku akan mengenal dia. Mungkin sudah seumur hidupku. Tante Merry. Seorang istri dan ibu dari tiga orang anak. Satu anak laki-laki dan dua anak perempuan.

Tante Merry mempunyai perawakan tinggi, lebih tinggi dari dua saudara perempuannya. Wajahnya sedikit lonjong, matanya mulai sayu dimakan usia yang sudah lewat 60 tahun. Rambutnya panjang sebahu, warna putih mulai mendominasi. Sehari-hari tante Merry kerap menggunakan daster yang dia jahit sendiri. Tante Merry suka kerepotan kalau hendak membeli sandal atau sepatu. Kakinya besar. Selain itu tante Merry juga mempunyai pribadi yang keras, tangguh namun dia lucu saat tertawa. Bahunya sedikit naik, dan salah satu tangannya menutup sedikit mulutnya sambil terkekeh.

Tante Merry mempunyai suami, Young namanya. Om Young juga berbadan besar, kulit coklat, perut buncit, matanya sipit, kumis yang kadang tebal karena malas dicukur menghiasi wajahnya. Mulutnya seperti orang yang sedang ngambek, maju beberapa senti, wajah jarang senyum. Terlihat galak. Tapi dia yang terbaik dan suka mengendari vespa, terkadang dia mengantar dan menjemputku semasa SMA dulu. Dia juga yang memastikan apakah aku sudah makan.

Sepertinya sudah hampir 10 tahun ini om Young meninggal, dan tante Merry pun beranjak tua sendiri. Aku lupa sakit apa yang dideritanya. Yang pasti permintaan terakhirnya, dia ingin madu yang dibawakan dari kampungku Muara bungo. Waktu itu sore hari, mungkin sekitar jam 4, pembantuku Mbak Nik namanya, sedang menyapu. Tiba-tiba ada telpon berbunyi, mbak Nik menjawab telpon dan tiba-tiba dia berteriak kaget “Hahh? Oh iya cik, nanti saya sampaikan”

“Lauren, tadi tante Merry telpon, ngabari kalau om Young meninggal”

“oh”

 Itu jawabanku. Hanya sebuah “Oh” yang membuat waktu seakan-akan berhenti, menarikku pada masa yang aku sendiri tidak tahu dimana aku berada. Pada saat pemakamannya aku yang menangis paling keras, sepanjang perjalanan menuju rumah kremasi aku menabur bunga sambil tak henti menangis. Bagaimana bisa seorang terbaik tapi diambil Tuhan lebih awal. Beberapa tahun setelah meninggalnya om Young, tante Merry pindah rumah dekat dengan rumahku. Rumah dua tingkat dengan cat warna hijau pupus, tidak terlalu besar tapi cukup. Dan semenjak ketiga anaknya menikah, tante Merry hanya tinggal bersama dua ekor anjingnya. Aku akhir-akhir ini lebih sering mampir kerumahnya. Sekedar mengantar makanan atau barang titipan.

Hari sabtu lalu aku sudah janjian dengan tante Merry untuk membuat nastar. Kebetulan tante Merry ada pesanan delapan kotak nastar, jadi aku datang untuk sekalian membantu. Oh ya, tante Merry ini sangat terampil dalam membuat makanan. Dia memiliki selera yang cukup tinggi. Aku paling suka kue talam yang dia buat. Kue kukus berbahan dasar ubi kayu yang diparut halus bercampur gula merah, dan pada lapisan atas ada santan yang gurih dan asin. Ketika digigit, gigi bawah dan atas kalian akan merasakan dua sensasi, kenyal dan lembut. Lidah kalian akan menemukan dua rasa. Manis dan asin.

Sabtu itu sekitar jam 10:30 aku sudah sampai dirumahnya, aku membawa bekal nasi goreng yang aku beli di pinggir jalan, langganan tempatku biasa membeli kue basah. Sesampai di sana tante Merry bertanya untuk apa aku membeli nasi goreng, rupanya dia sudah memasak nasi untuk dua orang dan ikan asin sambel hijau kesukaanku. Kami mulai membuat kue, tante Merry menyalakan radio tuanya. Dia sangat menyukai siaran radio yang berbahasa mandarin. Strato kalau tidak salah. Sesekali dia bercerita tentang Tong Fang, ini bukan klinik. Tong Fang adalah nama penyiar radionya. Tante Merry bercerita kalau Tong Fang ini sudah menikah selama enak tahun, tapi belunm memiliki anak. Dan ya sebenarnya apa peduliku. Tapi lagi-lagi aku ingat, tujuanku datang sebenarnya hanya ingin menemani tante Merry, agar tidak perlu dia bekerja sendiri. Setidaknya ada orang yang mengajaknya bicara atau sekedar mendengarkan ceritanya.

Sesekali tante Merry bersenandung, mengikuti lagu yang diputar di radio. Kebanyakan lagu yang direquest oleh para pendengar lawas di Surabaya. Selama membuat kue, tante Merry banyak bercerita. Tentang tetangganya yang sudah usia 40 tahun tapi belum menikah.

“Sempet dijodohin sana-sini loo O, terakhir sama orang Tiongkok, tapi orang tiongkok itu anak mama sekali, jadi batal”

“Hmm 40 tahun belum kawin?”

Dan seketika tante Merry menyentakku

“Heh, Mai kong lang”* (*Bahasa Hokkien : Heh, jangan ngomongin orang)

Atau tentang kucing yang dulu dia beri makan namun sekarang hilang entah kemana, tentang anjing yang dibuang, tentang jalan-jalannya bersama teman lamanya, tentang si Carlos anjing peliharaannya, tentang mesin jahitnya yang rusak. Tante Merry bercerita banyak hal. Sampai pada akhirnya dia bercerita tentang dia dan om Young semasa di Medan.

“Dulu ya, waktu tante masih di Medan, tante ada ikut acaranya Tao sama Om. Kalau bukan karena temen yang ngajak tante ya ga bakal datang. Nah waktu itukan belom ada izinlah rasanya. Lah ilahh jadi tiba-tiba ada polisi atau apa itu, ung.. mata-mata ya. Datang mau tangkap. Tante sama om lari, om ga tau lari sembunyi kemanalah ya, tante sempet ketangkep, sempet naik mobil polisinya. Waktu itu mobil sedan, tapi pas orangnya lengah tante langsung keluar, lari pontang panting sambil angkat rok ini”

Tante Merry mempraktekkan sambil terkekeh.

“Terus tante cari om, kok ga kelihatan, tapi om lihat tante masuk mobil polisi. Tante cari-cari ga ketemu, tante lari terus, akhirnya panggil becak pulang. Waktu itu gak bawa duit pula, ya biarin. Bayarnya pas di rumah”

Tante Merry bercerita sambil tangannya bergerak-gerak dengan nada yang turun naik, dan tetap membungkus nastarnya.

“Nah, omkan ada lihat tante masuk mobil polisi, tapi ga lihat tante keluar, jadi om cari tante ke kantor polisi. Dilihatnya satu-satu tapi gak ada tante. Pas ditanya nama/KTP pas ga bawa atau gimana ya, tante sudah lupa. Akirnya om pulang kerumah dan lihat tante malah ngomel “ walahhh, sudah dirumah, tadi aku cari sampe kantor polisi”” dan tante Merry pun kembali terkekeh. Akupun tertawa mendengar ceritanya dibarengi dengan mataku yang mulai berkaca-kaca. Melihat perempuan paruh baya ini terkekeh renyah menceritakan salah satu pengalamannya bersama om Young.

Terkadang aku ingin bertanya, “tak rindukah tante dengan om Young” tapi pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang lazim dalam perbincanganku dengan orang seperti tante Merry, karena kami tidak pernah membahas sesuatu dengan intim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s