Surat Balasan

Apa kabar? Aku terpaksa mengirimkan surat ini, supaya kamu paham bahwa Aku memperhatikan kamu.

Kemarin Aku melihatmu berbincang-bincang dengan teman-temanmu. Sepanjang hari Aku menunggu, berharap kamu akan menoleh kepadaKu dan mengajakku berbincang. Hari ini Aku melihatmu berkeliling, kamu melewati rumahKu, tapi kamu tidak mampir. Ada yang bilang kalau kamu akan ke laut sore ini, Aku memberimu senja untuk menutup harimu dan angin sepoi-sepoi untuk menyejukkanmu. Tapi yang Kudapati kamu malah tenggelam dalam lamunan senja, membuat sebuah potret, dan berharap ada cirrus yang menghiasi langit. Namun maaf, Aku lupa menambahkannya pada senja.

Aku sangat sedih, kamu mengambil langkah menjauh dariKu, mungkin aku membuat kesalahan, sehingga kamu enggan berbicara denganKu lagi. Aku menyesal memberikan keadaan ini untukmu, Aku pikir dengan begini kamu akan datang padaKu, walaupun hanya untuk memaki.

Seandainya saja kamu mau mendengarkan Aku. Aku sangat mencintaimu. Aku berusaha menyatakannya lewat langit biru yang kamu sukai, aroma rumput hijau yang sering kali kamu hirup dalam-dalam. Aku membisikkannya pada dedaunan dan menghembuskannya lewat bunga warna- warni di depan pagar rumahmu. Aku menyelimuti malammu dengan jubahKu, membangunkanmu dengan kasihKu. KasihKu padamu lebih besar dari kebutuhan yang ada dalam hatiMu.

Bicaralah padaKu, tak perlu lagi menunggu purnama keduabelas.

 

Aku sudah membaca suratMu, tadi seorang pria paruh baya dengan kemeja dua saku memberikannya padaku tepat saat aku selesai memarkirkan kendaraanku.

Oh, senja ini Kamu yang buat? Terima kasih untuk senja, angin, udara dan keindahan semesta yang Kamu hadirkan untukku. Terima kasih juga untuk kesabaranMu. Kamu tahu kenapa akhir-akhir ini aku malas berbincang denganMu? Karena aku merasa Kamu adalah seorang pembohong besar. Pengumbar cinta dan tukang buat patah hati.

Tapi aku sadar satu hal, semakin aku memilih menjauh dariMu, semakin aku terluka karena kecemasan yang muncul. Tidak seharusnya aku menjauh dariMu, sang sumber masalah. seharusnya aku mendekat dan mengajakMu berdamai, agar Kamu tidak lagi menjadi seorang yang brengsek. Dan pada akhirnya, aku memang tidak bisa mendiamkanMu terlalu lama. Rasa cintaMu memenangkan hatiku kembali, sementara imanku terus meminta aku kembali padaMu.

Ya, kemarahan ini terlihat bisa menjadikanku seorang penyintas. Tapi bukankah iman kepadaMu lebih kuat?

Seorang kenalan memberikanku saran, ia berkata “Mari memandang soal hidup, meneliti lebih peka soal bahagia”. Mungkin aku lupa bahagia, makanya aku tak lagi memperhitungkan keberadaanMu, dan aku minta maaf soal itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s