Sabtu Bersama Dee

Sabtu, 14 Mei lalu saya putuskan untuk ikut seminar kepenulisan bersama Dee Lestari  (@DeeLestari)  yang diadakan di ITS. Cukup bayar Rp.75.000 saya sudah bisa mendapat berbagai ilmu dari Dee. Pada tiket masuk tertulis jam mulai pukul 8 pagi. Saya sudah paham betul kebiasaan orang-orang, acara molor hingga 2 jam. Jam 10 baru talkshow dimulai. Sebelum talkshow, dari panitia mengadakan kuis untuk memenangkan kesempatan foto bersama Dee, dan saya mendapatkan kesempatannya. Tapi percuma sampai saat ini saya belum menerima foto itu, dan terlepas dari masalah ini lebih baik saya berbagi pengetahuan apa yang saya dapatkan.

Talkshow mulai jam 10, dibawakan oleh moderator bernama Maya, dan seketika Dee muncul, Oh Tuhan auranya itu ya sungguh luar biasa. Dee mengenakan baju dan celana hitam. Dengan rambut terurai dan senyum yang mengembang ramah menyapa peserta. Cantik sekali. Berbicara soal peserta, saya satu-satunya peserta tionghoa, yang lainnya berkerudung.

Dee mulai becerita tentang buku Supernovanya yang sudah menemui babak akhir. Dan menjawab beberapa pertanyaan dari peserta. Apa yang dibicarakan oleh Dee seperti sebuah tamparan yang membangunkan saya dari keraguan.

Selama ini saya mengira saya seperti orang gila, ada dua sisi dalam diri saya. Satu sisi nyata, yaitu diri saya sebagai Lauren sendiri dan kedua, sisi yang selalu memperhatikan sekitar, melihat, mendengar, membaui , merasakan dan mengetik cerita dengan sisi yang ini. Ternyata Dee juga seperti itu (Ya entah itu artinya saya waras atau Dee juga gila). Dee mengatakan bahwa sebagai penulis kita harus peka menggunakan semua panca indera kita. Sensitiflah dengan sekitar kita, karena apa yang kita dengar, lihat, rasa dan bau itu merupakan tabungan kita untuk menulis. “Sebagai penulis” sebenarnya saya tidak merasa sebagai seorang penulis. Saya tidak menghasilkan karya yang luar biasa (hanya sekali, tulisan saya tentang Alm sahabat saya dimuat dalam majalah nasional), saya kadang buntu dengan ide hebat yang tersimpan dalam kepala, saya buntu dengan muatan abstrak yang berdiam dalam semesta yang saya ciptakan sendiri.  Dee bilang “Kamu adalah penulis ketika menulis itu menjadi sesuatu yang sangat susah”. Saya hanya mengehela nafas. Saya bukan orang yang pandai berimajinasi atau mengarang, saya bisa menulis dan merangkai kata ketika saya menangkap sesuatu dengan panca indera saya, atau saya mengalami sesuatu dengan hidup saya. Saya tidak bisa membuat cerpen fiksi, saya cenderung membuat yang nyata dan mengaku kalau ini hanyalah sebuah fiksi, ketika seseorang bilang “Cerita ini nyata sekali”. Intinya saya tidak bisa menulis atau mengarang kalau tidak ada pematiknya. Untuk hal ini saya merasa payah.

Menulis itu adalah pembelajaran seumur hidup, itu juga yang Dee sampaikan. Dan kalau kalian tahu, saya kuliah ambil ilmu komunikasi yang berfokus pada jurnalisme online dan cetak, kenapa? Karena saya merasa menulislah, satu-satunya hal yang bisa saya kerjakan tanpa perlu menghapal rumus A, B, C atau D. Dan lagi saya sudah mulai menulis sejak saya masih usia 6 tahun, jadi saya merasa hal ini gampang, karena sudah biasa saya kerjakan. Tapi ternyata pada prosesnya saya mengalami kesulitan, saya sempat berhenti menulis lebih dari 2 atau 3 tahun. Saya kehilangan dunia saya.

Dee juga bercerita bagaimana dia mengalami kebuntuan saat menulis novelnya, kadang sehari dia hanya mampu menghasilkan satu kalimat, atau bahkan menghapus puluhan kalimat. Defisit kata.

Lalu apa yang Dee lakukan saat dia buntu dengan ceritanya sendiri? Dia membongkar lagi cerita lamanya, memperbaiki lagi, membaca ulang. Dan hal ini patut dicoba, karena buat saya sadar juga, seharusnya kalimatnya tidak begini. Saya tipe orang yang selalu ingin bacaan dalam tulisan saya mempunyai nada yang enak. Sambungan kalimat yang cocok satu dengan yang lainnya.

Sementara itu untuk penuturan, bahasa apa yang lebih baik kita gunakan dalam menulis, Dee bilang itu tergantung dari kita sendiri. Kita ingin karya kita bertahan sampai berapa lama? Memang menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan KBBI itu seperti ada kesenjangan. Terlalu baku. Tapi kebakuan itulah yang melanggengkan nafas karya kita. Bahasa gaul bisa itu hanya sebuah trend, dan trend itu ada masanya. Sementara bahasa yang baku, akan lebih panjang masanya. Namun orang-orang merasa bahasa yang baku itu terlalu kaku. Tapi menurut opini saya pribadi, bahasa yang baku bukan terlalu kaku, hanya saja masyarakat sudah terlalu dimanja dengan bahasa gaul. Terlepas dari itu, saya lebih suka bahasa baku, mungkin saya tumbuh besar di tanah melayu, sebagian orang-orang cenderung menggunakan bahasa baku, namun dengan cangkok melayu. Kami suka bersyair.

Tapi ya kembali lagi, kalian bebas menggunakan bahasa apa saja, asal kalian harus paham betul ranah mana yang ingin dimasukan.

Tidak dipungkiri, sedari dulu saya ingin menjadi orang terkenal. Terkenal lewat karya, Dee menyampaikan saat kita menulis, ingin menerbitkan karya jangan terlalu banyak ruang untuk memikirkan yang muluk-muluk tentang penerbit, hasil yang akan didapat, dan euforia lainnya. Tapi temukan dulu kata “tamat” dan rayakan jika sudah menemukannya. Selebihnya? biarkan itu menjadi bonus.

Selama talkshow, tidak itu saja yang dibahas. Dee juga berbicara tentang penokohan/ karakter, identitas, benang merah dalam penulisan, deadline dan  recycle ide. Tepat jam 12 siang, Dee menutup dengan memberi pesan yang saya anggap sebagai petuah;

“Latihlah kepekaan, jangan membuang ide. Selalu pelihara rasa ingin tahu dalam diri.  Kata “Tamat” itu sendiri merupakan hadiah terbesar. Berpuaslah ketika karya selesai. Berani memulai, berani gagal dan berani menghadapi keberhasilan”

Salam,

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s