Pesan dari Bapak : Ambil Hikmahnya :)

Apakah ada hal yang lebih menyakitkan dari pada putus cinta? ADA!

Apa itu? di PECAT!

Sudah hampir dua minggu ini gue menganggur. Tanggal 1 April lalu, sekitar jam 16.45, atasan manggil gue. Ketemu di ruang meeting.

“Lauren, ini kamu sudah bulan ke tujuh ya? Dengan berat hati, ini hari terkahir kamu kerja. Ini gaji kamu. Di hitung dulu”

Dalam hati gue mikir, bahkan gue ga tau berapa nominal yang harusnya gue dapet. Karena mereka ngecut secara mendadak, tanpa alasan yang masuk akal buat gue. Tapi setidaknya nominal yang di kasih mencapai batas minimal, walaupun kurang goban. Tapi ya cincailah.

“Ya, kamu tau. Kita harus merubah sistem. Keadaan ekonomi juga semakin buruk. Jadi ya.. kamu pahamkan. Kita harus merubah. Seperti yang pak **** bilang, kamu mengawasi, di atas kamu ada yang ngawasi juga, yang ngawasi kamu juga di awasi, jadi bertahap gitu lo..”

Sumpah! Di sini gue mikir korelasi, koneksi, hubungan, jangkauannya di mana? Dan melihat dari gestur si bapak, jelas banget sebenernya dia ga ada alasan yang cukup kuat untuk ngecut gue.

Ok, kita flashback dikit ya, awal pertama gue interview. Pertama kali gue interview itu sama mak bapaknya mantan bos gue. Setelah satu bulan ga ada kabar, gue mulai give up. Gue ga apply kerjaan di tempat-tempat lain. Kenapa? Karena di sini passion gue. All about beauty. Gak lama, gue di panggil interview lagi, kali ini ketemu sama anaknya.

“Kerja di sini sampai sabtu, ga ada istilah partime”

“Iya pak, tidak masalah”

“Beneran? Anak muda sekarang bilangnya gpp gpp, tapi ujung-ujungnya resign”

“Ga kok pak, kerjaan saya sebelumnya malah kadang sampai hari minggu”

“Ok, kerja di sini sulit, pasti akan under pressure”

“Tidak masalah pak, karena saya suka dengan pekerjaan ini. Saya suka dengan bidang ini”

“Kamu jangan berekspektasi terlalu tinggi Lauren”

Setelah basa-basi bos yang cukup klasik, gue minta maaf ama doi, karena beberapa waktu terakhir ini gue kerjanya agak payah. Gara-gara ada masalah yang akhirnya buat gue enggan untuk maksimal. Maklum gue suka kebawa perasaan. Abis tu gue kembali ke ruangan gue. Ngomong ama anak-anak yang ada di bawah divisi gue.

“Mulai besok kalian akan terbebas dari ibu koordinator ini dan deadline. Aku selesain di sini”

Di tengah “anak-anak” gue shock, keluarlah partner gue sambil nangis-nangis.

“Lau…. gue sedih. Gue shock..” sambil nangis sesunggukan.

Dan beberapa staff dari divisi lain bahkan HRD kirain gua bercanda. Di kira April MOP! April MOP pale lu! Anjinggg!!! Anjing bener.. guk guk.

Sebenernya gue sudah feeling ga enak sih, Januari lalu masa percobaan gue di perpanjang. Bos gue ngomongnya :

“Secara kerjaan dan personality kamu ok. Anak-anak yang lain juga bilangnya tidak ada masalah dengan kamu, kerjaan semua ok. Cuma menurut saya kamu kurang aktif, banyak nganggurnya dan kamu harus lebih sinkron sama partnermu”

Hmmm… sama anak-anak lain semua ok, ama partner gue yang engga. Akhirnya gue cerita ini ke anak design. Komen mereka

“Hah? Kebanyakan nganggur? Ga salah? Justru kamu yang banyak kerja. Dia tuh yang di ruangan googling ga jelas, streaming”

“Ya sudah gpp”

“Masalahnya ga gitu, dulu ada beberapa orang yang cut atau keluar kan gara-gara dia”

Gue ga komentar apa-apa, karena gue merasa gue tidak bermasalah dengan siapapun di sini. Lalu gue juga bilang ama partner gue kalau masa percobaan gue di perpanjang. Dia kaget shock dll. Dia bilang:

“Lau gue mau ngomong ama bos, ga sinkronnya kita di mana? Kita kan ga ada masalah, gue ga suka kaya gini. Kaya bos adu domba kita. Gue ga terima lu di giniin”

Pas kita lagi meeting bertiga, dan bahas ini itu, kelar meeting kita balik ke ruangan dia bilang:

“Lau gue belum bahas masalah lu ya, ga enak klo gue ngomong ada lu, ntar aja klo pas gue meeting berdua ama bos”

OH GOSH! Gue udah masa bodolah, gue juga udah mau resign niatnya, ga kuat gue dengan sistemnya yang ga masuk akal. Tapi karena interview di awal gue sudah berjanji ga akan resign kecuali ada masalah personal yang amat pelik atau masalah yang ga bisa gue toleransi lagi.

Dan feeling lainnya salah satu kerjaan gue itu handle social media, but somehow bininya bos gue minta password dan username. Katanya biar dia aja yang handle per akhir maret.

“Gpp Ren, mulai sekarang instagram biar saya saja yang handle. Klo dua orang nanti bingung”

“Oh ok bu, untuk fascebook dan twitter tetep saya update ya, soalnya dari bapak mau terupdate semua”

“Gitu juga boleh”

“Sama untuk instagram planning tetap saya buat bu, nanti saya update ke ibu untuk designnya”

“Ok”

Percakapan ini terjadi di hari terakhir gue kerja. See? Bullshit banget ga? Gue merasa di permainkan. Terlalu berbaik sangka dengan orang. Idiot!

Agak malam, si Ibu line gue

“Lho Ren, kamu hari ini terkahir ya? Ga sempet ketemu”

Ga sempet ketemu ketek lo, sore jam 3an lu ngobrol ama gue

“Iya bu”

“Maafkan saya dan bapak ya, kalau selama ini ada salah. Semoga selama di sini Lauren mendapatkan pelajaran”

“Iya bu, sama-sama. Saya minta maaf juga kalau sering buat ibu dan bapak stress”

“hahahahah , ga lah. Kamu ini”

Ok, dan part ini gue mau bagi ke kalian tentang pekerjaan dan pelajaran apa yang gue dapat selama bekerja di perusahaan yang sudah lebih dari 30 tahun berdiri. Dan para atasan itu lulusan dari luar negeri. Pokoknya mereka punya latar pendidikan yang baik.

Tempat gue bekerja sebelumnya ini adalah sebuah perusahaan kecantikan (salah satu yang terbesar di Surabaya). Posisi gue sebagai asisten manager marketing, yang mana pada dasarnya gue ga ada manager marketingnya. Gue membawahi 2 divisi. Design dan membership. Kerjaan gue buat konsep untuk design promosi seperti poster, spanduk, billboard, newsletter, cetak, handle social media dan juga menulis untuk harian lokal bagian komunikasi bisnis. Secara kasat mata, kerjaan gue ga banyak, tapi harus memikirkan konsep design terus menerus itu yang berat. Kenapa? Karena selera gue ama bos ga sama. *permasalahan pertama “beda selera”*

Gue suka design yang minimalis. Minim bahasa namun langsung mengena. Tapi bos suka yang full. Yang mana menurut gue mending elu kasiin koran aja ke customers. Tapi ketika gue buat design yang agak full, eh doi malah ajarin gue kalau design ga boleh terlalu full bla bla bla. Duh pengen gue bakar.

Tapi kadang, salah di gue juga sih, anak design kadang ga mau dengerin kata gue, gue males ribut dan udah capek ngomongin, karena ini anak designnya bebal banget. Akhirnya gue terima aja designnya untuk gue ACC. Ya kali aja bos gue itu lagi ga tepat, jadi diapprove aja designya.

Masuk pada permasalah kedua, gue terbiasa bekerja dnegan deadline. Sementara bos gue ga bisa ngikuti deadline gue, tapi nanti kalau lewat deadline dia marah-marah. Partner gue yang cenderung manusia “Yes Sir” bilang “Bos selalu bener”. Dan pada akhirnya, ketika gue di omelin karena lewat deadline gue jawab :

“Kan bapak yang minta pending karena ini itu, proposal juga belum approval. Saya sudah buat timeline untuk design cetak dan kirim bapak bilang sulit karena ga bisa kita nentukan tanggal untuk promo”

SEE?? Sebenernya gue ama mantan partner gue itu udah buat marketing plan untuk setahun. Gue juga udah buat media planning untuk satu tahun, termasuk media planning sama partner kerja. Ternyata atasan gue sendiri yang ga “berani” pasti dan jalan dengan marketing planning itu, dan parahnya lagi doi suka banget memuji salah satu brand make up karena mereka punya marketing plan dan tiap bulan tinggal eksekusi. Menurut kalian?

Permasalahan ketiga, sebenernya ini bukan masalah banget sih tapi… perusahaan  tempat gue kerja dulu ini ada 4 atasan. Papa Mama Anak Menantu yang mana mereka sendiri ga pernah ada dalam satu suara. Kecuali satu suara buat nyalahin orang. Anak menantu takut ama mamanya, mama takut ama papanya. Salah satu buat salah, ga ada yang berani ngaku, akhirnya lempar ke staff.

Oh iya, waktu gue meeting dengan para store manager dan keluarga ini, papanya ada bilang “Semua orang itu sama, tai semua. Same shit diffrent toilet” gue pengen banget nyaut “Kalau bapak mikir semua orang itu tai, jangan marah kalau nanti tai juga yang bapak dapet”. Tapi untung akal sehat gue masih bisa jalan, jadi gue ngomong dalam hati aja.

Dan memang bener, banyak shit happen. Salah satunya kecolongan dari staff sendiri hampir 100 juta. Itu Cuma dari satu brand saja.

Permasalahan ketiga ini yang agak berat, tidak satu suara. Jadi kadang gue bingung mau kerjain ini, anaknya ok lah bapaknya ga mau. Udah di benerin mantunya ok lakiknya yang ga mau. Pengen gue bakar *lagi*

Permasalahan keempat, gue merasa gue tidak satu level. Karena ketika gue bahas tentang perencanaan untuk digital marketing atau mau mengaet pangsa pasar yang usianya muda dan punya daya beli, tapi mereka sepertinya belum berani take a risk. Tapi ini bukan masalah, ya namanya juga lu kerja ikut orang, wajar aja klo lu ketemu ama tipe perusahaan yang tidak mendengarkan suara. Dan perusahaan ini sepertinya lebih dengarkan suara yang sudah senior dan kalau ada masalah mereka cenderung mendengarkan dari satu sisi saja. Makanya gue ga heran sih, sistem komunikasi di perusahaan ini cukup payah dan parah. Empat atasan itu aja kadang komuikasinya sendiri sering miss. Begitu juga dengan staff-staffnya. Satu ruangan tapi ga tau ada event atau program apa yang bakal diadain.

Permasalahan kelima, sebenernya sama partner kerja gue sih. Banyak staff yang bermasalah dengan dia, ga suka untuk cara kerjanya, makanya divisi di bawah gue dan dia lebih suka nanya ke gue, padahal dia yang kebih senior. Dan gue sendiri pun kadang gerah dengan sikap “Yes Sir” dan “bossy” serta pinter basa basi. Tapi gue ga pernah ngomongin ini ke dia, karena bisa jadi emang itu bawaannya dia. Dan over all gue ga bermasalahd engan sikap yang seperti itu, karena memang banyak karakter begitu di dunia kerja.

Pernah satu ketika, gue ada miss satu halaman di newsletter, bos ngomel. Karena memang gue ga tau kalau halaman itu harus masuk pada bulan-bulan tertentu. Karena gue ga pernah di omongin. Bos bilang :

“Lain kali kamu kasih lihat partnermu dulu, biar dia bisa ingatkan. S kamu juga harus cek lo, biar ga ada yang miss”

“Ya pak, baik. Selanjutnya akan saya cek”

“Iya Lauren, kalau kamu sudah selesai kamu harus kasih dia cek dulu”

Ok, setelah keluar dari ruangan gue tanya ama partner gue

“Emang kalau gue kasih lu cek, lu bakal tau kalau gue ada miss satu halaman?”

“Ya enggaklah. Mana gue ingetin tiap bulan harus ada apa”

Dan setiap kerjaan gue yang harus di publish, gue harus kasih ke partner dulu buat di cek, kadang gue sengaja lewatkan beberpa bagian. Dia juga ga nyadar. Tapi ya sudahlah. Toh gue udah ga kerja lagi di sana.

Singkat cerita, ketika gue bilang gue di keluarkan, ada staff langsung menuduh partner gue yang laporan aneh-aneh karena dia kalah pamor ama gue. Gue sih Cuma bisa bilang “Jangan menuduh sembarangan”. Beberapa hari setelah gue ga bekerja para store manager mulai tau, dan masing-masing ngirim text message ke gue dan tanya kenapa gue resign. Gue jawab kalau gue ga resign tapi di cut, dan mereka bilang kalau perusahaan mengeluarkan orang yang salah dan akhirnya mereka mendoakan gue lebih sukses di luar perusahaan ini. Gue senang setidaknya gue merasa gue meninggalkan kesan yang baik di sini.

Hal yang terberat sebenernya bukan di cutnya gue, tapi gimana gue ngomong ama bapak ama mamak gue. Tapi setelah gue ngomong, ya mereka tidak masalah. bapak gue bilang :

“Ya sudah tidak masalah. ambil hikmahnya saja. Jangan menyalahkan orang lain, lebih baik memperbaiki diri”

Ya kalau mau di bilang, perusahaan ini jahat banget sih, gue ga tau salah gue di mana, tau-tau main cut tanpa ada pemberitahuan atau kasih gue waktu sampe gue dapet kerjaan baru. Tapi lagi-lagi gue inget pesen dari bapak gue, jangan menyalahkan orang lain lebih baik perbaiki diri. Ya sudahlah.

Terkahir mantan partner gue ada text gue untuk tanya-tanya kerjaan gue, karena selanjutnya di yang handle. Gue Cuma jawab

“Next gue ga akan jawab ya. Fair enough. Perusahaan impolite”

Dan baru dua hari gue ga di kantor, ada laporan kalau muai chaos. Beberapa staff mulai bermasalah dengan mantan partner gue itu.

Jadi pelajaran apa yang gue dapat?

“Pendidikan tinggi bukan jaminan untuk membentuk kamu menjadi orang pintar dan santun. Pendidikan tinggi terkadang bisa buat kamu tampak menjadi orang bodoh. Perusahaan yang besar belum tentu punya sistem yang baik, bisa bertahan lama karena gerakan stagnant. Dan setiap orang yang baik yang kamu temui, belum tentu baik, mereka selalu punya dua sisi karena itu yang di perlukan oleh dunia saat ini. Terlihat dari temen-temen gue di situ mereka bilang “Aduhh selamat ya Lau kamu udah lulus, aku kapan ya??? Aku berharap aku yang di panggil dan di cut”. Dari sini saya juga nambah ilmu soal kecantikan dan istilah-istilah kedokteran, saya juga belajar bagaimana sebenarnya sebuah brand kosmetik berkembang dan cara kerjanya”

FYI 7 bulan gue kerja, sudah ada 12 orang yang resign dengan alasan yang sama semua.

Tapi tetep ya, seperti kata bapak gue, jangan menyalahkan orang lain. Ambil hikmah dan perbaiki diri.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s