Mesin Waktu (Cerita Tentang Rindu Part.1)

 

Apa kalian percaya dengan mesin waktu? Aku percaya. Jika kalian bertanya “Seperti apa mesin waktu itu?” Maka jawabannya adalah “lagu”. Menurutku lagu adalah mesin waktu yang sangat nyata. Sebuah lagu mampu menarikmu pada ingatan masa lampau, mampu memaksamu mengingat kembali hal-hal yang tidak ingin kamu ingat. Dan sebuah lagu mampu membuatmu membayangkan suatu waktu yang sangat amat kamu rindukan.

Sore ini langit mendung, sama seperti langit sebelum-sebelumnya. Burung camar dari pantai dekat rumahku sesekali terdengar “koakkk”nya. Lagu-lagu indonesia lawas dengan musik minimalis sedang berputar dari playerku. Aku duduk di teras, tempat terbaik di rumah ini selain ruang baca.

                              ∞

Aku merindukan Jakarta. Aku merindukan malam di kota tua. Gara-gara melihat harian pagi Jakarta, aku jadi ingin ke sana.  Bisa kalian bayangkan? Malam itu aku di tengah keramaian, bersama orang yang tidak aku kenal betul, tapi kami bersenang-senang, aku tidak perlu kuatir akan ketahuan keluargaku karena aku bermain di tempat seperti ini. Hingar bingar pasar malam di kota tua, suara musik dari speaker rongsokan, konser reggae, banci berjoget, cerita horor dari anak penjual minuman, jagung bakar, gelap, aroma kopi, obrolan dini hari dan Fauzan. Aku merindukannya. Sangat rindu.

     ∞

Hujan mulai turun, gerimis…

Kota Malang adalah sebuah tempat yang menjadi candu buatku, susu jahe atau beer, kerlap kerlip cahaya malam dan curhat tak berkesudahan kepada seseorang yang awalnya ingin kutolak, namun jadi pendengar terbaikku saat itu. Narendra namanya. Dia memberikanku banyak refrensi lagu jadul, yang mampu membuat imajinasiku semakin menyenangkan. Tapi sedihnya yang menyenangkan itu hanya sebatas imajinasi. Dulu kalau kami sudah bertemu, obrolan tidak mutu kami membuat kami lupa waktu. Dia suka membullyku, tapi aku tetap suka bercerita dengannya. Tapi sayang, pertemanan ini pertemanan timbul tenggelam. Kami terpisah. Masing-masing kami seperti orang asing. Dan sialnya dia yang memegang banyak rahasiaku!!

Sebenarnya aku bukan penikmat musik sejati, aku hanya mendengarkan musik ketika ingin saja, saat pendengaranku sedang sepi. Tapi Jogja, tempat pertama aku jatuh cinta, dia membuatku menyukai  musik. Banyak pengamen jalanan yang aku jumpai saat aku nongkrong di akringan. Kadang aku suka request lagu, pernah sekali aku ikut mengamen, jadi penabuh gendang dan hasilnya? Kacau. (Cerita ini jangan sampai ibuku tahu, aku pasti akan dimarahinya habis-habisan).

Malam itu, setelah melalui beberapa jam perjalanan dari Semarang. Aku tiba di Jogja. Percayalah, bagi kalian yang pernah bersekolah atau sekedar berkunjung ke Jogja, pasti akan bernasib sama sepertiku, menjadi warganya rindu. Apa yang aku rindukan dari Jogja? KM 0. Penghujung jalan Malioboro. Banyak orang-orang “aneh” di sana. Tapi tidak apa-apa. Orang aneh tidak melihat aneh sesamanya. Aku senang. Kalian mau tahu apa yang membuatku senang dengan KM 0? Di sana banyak hiburan, para seniman, peramal bergaransi, penjaja minuman keliling, sate, bakso, tahu, angsle ronde, Ara dan aku pecandu malam. Jogja, kota yang penuh dengan tata krama, dan akan selalu istimewa…

Dan cerita tentang rindu ini masih akan terus berlanjut 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s