Pandji Pragiwaksono :)

Kenali Indonesia mu, Temukan passion mu. Berkaryalah untuk masa depan bangsa mu.

Kalimat simple ini cukup membuat saya tergerak dan mulai berpikir. Apa passion saya?  Apa yang bisa saya lakukan untuk bangsa ini? Menuntut sebuah perubahan atau menciptakan perubahan?

Pandji Pragiwaksono, yang mana nama belakang nya baru saya ketahui setelah membeli bukunya. Seorang pemuda yang buat merinding dan mata berkaca-kaca ketika saya membaca bukunya. Maklum saya anak yang imajinatif, jadi  bisa membayangkan semangat dan ekspresi bang Pandji setiap kali dia berucap.

Bang Pandji, biasa saya menyebutnya. Terdengar sok kenal sok akrab ya? Ah masa bodoh lah. Pertama kali lihat bang Pandji di acara TV. Tidak ada yang istimewa dari sosok tambun ini. Dan beberapa kali saya juga lihat bang Pandji bawain acara di DBL arena, Surabaya. Masih belom ada sesuatu yang istimewa yang saya temui dari pria tambun dengan kulit sedikit gelap ini. Sampai pada suatu hari salah satu orang yang saya follow nge-RT tweet nya bang Pandji tentang “Lesson4today”, akhirnya saya follow lah akun bang Pandji guna mendapatkan tweet “Lesson4today” tersebut.

=

Mention pertama saya di bales sama bang Pandji waktu saya bertanya seputar buku Nasional.is.me. dan setelah itu hampir setiap saya mention bang Pandji selalu di bales. #penting

Beberapa temen-temen saya ada yang nanya “Kenapa kamu ga suka novel? Saban saya lihat rak buku kamu, bacaannya ga jauh dari Indonesia, sosial, dan pengembangan diri. saya baca judulnya aja udah males”

Adik saya bertanya “Nasional.is.me? bacaan kamu ga ada yang lebih normal ya ce?”

Saya akui memang, saya bukan pecinta novel, jarang banget baca novel. Ada juga novel nya bang Dika. Oh ya, sekilas kita bahas tentang buku nya Bang Dika ya. Pertama kali saya dipinjemin ama temen tentang “Cinta Brontosaurus” kesan pertama baca buku ini adalah “FLAT”. Temen saya ngakak-ngakak, tapi saya merasa guyonan dalam buku ini terlalu murahan, kampungan dan lebay. (opini). Tapi memang itu lah cara seorang Raditya Dika menyampaikan sebuah hiburan. Tapi lambat laun saya merasakan perubahan bahasa bang Dika di novel “Marmut Merah Jambu” dan “Manusia Setengah Salmon” bahasanya lebih halus  mungkin karena galau (lagi-lagi ini opini). Dan saya mulai menyukai Bang Dika, ngakak mapus dah pas lihat dia Stand up. Cowok kuntet dengan muka jelek nan menghibur. Juara deh :).

Yuk balik lagi ke bahasan awal tentang bang Pandji. Setelah beberapa halaman saya baca, saya melihat bahwa bang Pandji menuangkan segala sesuatu energi positif, tak hanya untuk atau tentang Indonesia, tapi terus terang ini juga berdampak pada pola pikir saya secara pribadi. Selalu melihat segala sesuatu dengan sudut pandang positif. Baik buruk sesuatu, lihat lah selalu ada celah positif yang akan membuat kamu sedikit bangga. Dan jangan lupa tamankan sikap optimis dalam diri.

Dari Sebuah Permintaan Sampai Sebuah Perenungan. “The problem in our country is, we do not think as one. We are too much apart. That is the fact. Thank God we are united in same language. Or maybe we do not have a strong leader. I don’t know. All I know is, there’s NOTHING we can do by blaming the past. What we are right now, is a product of our past. If we don’t like what we see today, we change it. We make it happen. It may not be for the benefit of our own, but by God, it will be for the benefit of our children’s children.”

Ini kata-kata yang saya kutip dari buku nya bang Pandji (Saya akan selalu ngutip ya untuk bahas setiap bab nya)

Untuk yang pertama, bener banget sih, kita tidak berpikir bahwa kita adalah satu. Kayanya Bhineka Tunggal Ika tidak berlaku buat berbagai golongan. Ini jelas terlihat dari saya anak keturunan Cina yang dulu sering di ejek “Cino cinoo..” dan meraka mulai ngelanturin bahasa mandarin yang mana saya juga ga ngerti. Karena sedari kecil saya ga di ajarin bahasa mandarin secara khusus, tapi lebih pada penggunaan bahasa Indonesia. Kalau saya pergi ke pasar, yang mayoritasnya orang pribumi, rata-rata dan biasanya saya bakal di pandang aneh. Dulu waktu sekolah, anak-anak keturunan cina suka jadi korban “kompas” saya ga tau istilah lainnya apa. Jadi kakak kelas atau anak pribumi minta uang secara paksa ke anak-anak keturunan cina. Ya mereka yang ga punya keberanian ya ngasih aja. Dulu saya juga pernah dikompas, dan mereka dapatkan satu bogem mentah.

Tapi di balik semua itu saya rasa orang yang terlalu menganggap perbedaan adalah sebuah masalah, mungkin karena beda tingkat pendidikan, cara pandang dan cara berpikir plus wilayah tempat tinggal.  Mereka punya hak untuk tidak menyukai perbedaan, nah kita-kita ini yang mencintai perbedaan kudu bisa terus menjaga dan memegang opini kita mengapa kita cinta perbedaan.

Saya menyukai perbedaan, kenapa? Karena saya tinggal di Indonesia yang sudah terkenal dengan keberagaman suku, mau ga mau ya jelas kita beda. Wong namanya juga “Beragam”. Saya sekolah di TK Khatolik, disana juga beragam murid. Ada Cina, Batak, Jawa dan lain-lain.  Dan lagi ayah saya ga pernah mengajarkan untuk membenci perbedaan. “Jika memang tak sependapat, ya sudah. Setiap orang berhak memiliki opini, dan kamu harus cukup cerdas untuk menanggapinya”

Sekolah SD dan SMP saya di sekolah negeri. Karena memang kota tempat tinggal saya waktu itu belom ada sekolah swasta yang masuk. Dan sekolah negeri bukan bearti buruk lo. Itu mah tergantung kecerdasan murid dan komunikasi gurunya aja.

Nah berhubung saya di sekolah negeri yang mayoritas murid dan guru beragama muslim, jadi lah saya belajar tentang agama islam, membaca al-quran dan iqra. Tapi untuk membaca al-quran saya dikasih toleransi untuk menghapal ayat dalam bahasa Indonesia saja. Untuk iqra, nilai kaligrafi saya ga pernah mengecewakan.

Mulai masuk SMA, pindah ke Surabaya. Sekolah Katolik swasta. Saya merasa asing, karena terlalu banyak kesamaan :p. Kesamaan warna kulit. Alias sejauh mata memandang Cina semua. Bayangakan saya merasa asing di tempat yang mayoritas kami adalah satu suku. Yaitu Tionghoa.

Oh iya, ga usah membahas perbedaan dulu deh. Bahas suku tionghoa aja yang sama kadang juga suka berantem atau ga berkawan karena beda prinsip, atau beda status sosial dan ekonomi. Jadi sebagai orang awam saya simpulkan saja, perbedaan itu memang bisa menjadi sesuatu yang buruk atau sesuatu yang membuat kita sempurna. Tergantung dari pandangan si optimis atau pandangan si pesimis yang kita lontarkan tentang sesuatu yang beda.

“I don’t know. All I know is, there’s NOTHING we can do by blaming the past. What we are right now, is a product of our past. If we don’t like what we see today, we change it. We make it happen”  Untuk mereka yang optimis! Semoga dari sebuah permintaan kita untuk Indonesia maju beserta suku bangsa nya, kita bisa merenungkan tentang apa yang telah terjadi dan apa yang akan kita lakukan untuk kedepannya. Jangan hanya menuntut sebuah perubahan, tapi ciptakan perubahan itu. #IndonesiaUnited

NOTE : Saya juga lagi mikir, perubahan apa yang ingin saya buat -_-

Dari Menjadi Penonton Sampai Menjadi Pelaku. Bab ini sih bang Pandji bahas tentang olahraga, yang mana saya awam dan ga paham tentang olahraga. Cuma di sinilah bang Pandji nunjukin sikap positif di balik kekalahan. Tentang pertandingan sepakbola Indonesia melawan Arab Saudi. Hasilnya sih Indonesia kalah, tapi berapa waktu yang di perlukan lawan untuk menundukkan tim Indonesia? 93 menit. Positifnya sih, pertahanan Indonesia boleh lah, sampe Arab yang sudah juara tiga kali piala Asia butuh waktu sebegitu lama untuk mencetak gol :). Sikap positif ini ga hanya berlaku dalam bidang olahraga. Tapi juga semua hal. Agar ga kecewa terlalu dalam juga.

Dari Sabang sampai Merauke. “Tidak boleh kita membenci sesuatu yang tidak kita pahami”

Sejauh mana kalian sudah berkeliling Indonesia? Kalau saya sih masih dikit. Hanya Padang, Bukit Tinggi, Medan, Rengat, Pekanbaru, Batam,  Bali, Makasar, Jogja, Semarang, Pontianak, Samarinda, Kediri, Blitar, Bondowoso, Situbondo, Malang, Jakarta, Bandung, Bogor. Ya baru itu saja. Untuk wilayah timur belum begitu banyak. Keterbatasan dana. Hehehehe

Setiap jalan-jalan saya selalu meyempatkan diri untuk berbincang dengan warga sekitar (jika memungkinkan) untuk sekedar bertanya tentang kebiasaan warga ataupun apa yang menarik dari kota ini. Selain itu pasti saya juga hunting makanannya :p.

Apa yang saya sukai dari Indonesia? Banyak tempat yang bisa saya kunjungi :). Apa yang saya sukai dari traveling? Banyak hal yang bisa saya pelajari :). Prinsip  dalam traveling adalah have fun sambil belajar. Apapun itu, setidaknya setiap saya balik dari traveling ada sebuah pelajaran yang saya dapatkan. Entah pelajaran itu berupa sebuah motivasi, inspirasi atau sebuah bahan perenungan :).

Apa yang ga saya sukai dari Indonesia? (sekelompok) orang-orang yang suka ribut dan memperdebatkan hal-hal yang ga penting.

Dari Sebuah Ledakan Sampai Sebuah Perjalanan.  Saya pengen banget gabung dalam komunitas yang isi nya orang-orang optimis dengan sejuta ide, dan mereka menghargai perbedaan. Karena saya capek dibedakan. Saya pengen banget menciptakan sebuah perubahan untuk Indonesia. At least untuk diri sendiri biar lebih dipandang. Tapi masalahnya saya belum menemukan komunitas itu. Miskin info. Dan lagi biasanya komunitas-komunitas seperti itu kebanyakan orang pribumi, dan lagi-lagi saya takut klo bakal di bedakan (mendadak pesimis).

Di sini juga bang Pandji ceritain tentang #IndonesiaUnited. Sebuah mimpi saya banget itu. Jangan lagi deh kita berantem perkara perbedaan, apalagi mengatas namakan agama ataupun yang lain-lain. Kenapa sih sebagian orang itu harus ribut masalah perbedaan, ketika mereka dan kita tahu betul klo Indonesia sudah tersohor dengan keberagaman suku nya? Eh apa mereka yang suka ribut-ribut masalah perbedaan itu ga tau klo kita memang beragam ya?

Dari Nasional.is.me Sampai Patriot.is.me. Membaca bagian ini membuat saya merinding betul dan pengen nangis. 27 tahun saya hidup, apa yang sudah saya berikan untuk Indonesia? Jangan Indonesia lah, untuk keluarga? Diri sendiri?

Satu hal, BUSET! Bang Pandji hebat betul lah, saya berharap tertular sama semangat optimisnya bang Pandji terhadap Indonesia. Saya berharap juga bisa meciptakan sebuah karya dan melakukan sesuatu untuk Indonesia, atau at least melakukan sesuatu yang baik untuk diri sendiri deh 🙂 (lagi-lagi).

Tentang perjuangannya, tentang apa yang sudah bang Pandji lakukan. Donor darah, donatur untuk C3 dan menjadi seorang nasionalis yang ga musiman. Wow! Dedikasi nya untuk Indonesia harus saya munculkan dalam diri saya, perlahan tapi pasti :).

Berbicara tentang C3, Community for Children with Cancer gue pengen banget gabung atau sekedar berbagi waktu buat anak-anak itu. FYI ya saya cinta banget sama anak-anak. Ketika kalian melihat tawa anak-anak itu, ah surga itu nyata. Tawa anak-anak adalah musik damai buat saya.

Bebicara tentang C3, saya juga mau cerita sedkit nih. Kalau kalian kebeneran baca tulisan ini. Bagi kalian yang berdomisili di Jawa Timur, bisa lo mampir ke Panti Asuhan Bhakti Luhur. Yang biasa saya kunjungin sih di Kediri. Panti asuhan kecil dengan anak-anak luar biasa. Memang mereka mengalami retradasi mental. Tapi mereka guru buat saya 🙂

Entah sejak kapan saya mulai mencintai hal-hal sosial. Mungkin sejak saya mengetahui bahwa saya ga punya talenta apapun. Tuhan ga kasih saya sebuah keistimewaan lebih. Jadi yang bisa saya lakukan agar terlihat berguna adalah membantu orang. Awalnya membantu orang saya lakukan agar terlihat baik. Tapi lama kelamaan membantu orang menjadi sebuah kebiasaan. Menjadi kesenangan tersendiri. Di balas atau tidak perbuatan baik, ah itu bukan masalah. Yang penting saya puas ketika bisa menciptakan kembali senyum-senyum mereka yang nyaris hilang.

Dan sial bener deh Tuhan akhirnya memberikan saya hati yang gampang tersentuh. Merasa bersalah banget klo ga bisa nolongin.  Dulu selepas kuliah saya pengen ikutan pengajar muda, Indonesia Mengajar. Tapi ga di izinkan. Dan saya terus lamar kerja ke perusahaan besar untuk mengisi bagian yang mengurusi CSR. Tapi Tuhan belom mengizinkan. Walaupun undangan untuk ikut test datang bolak balik. Saya masih punya mimpi untuk memiliki subuah rumah singgah atau yayasan. Tapi untuk saat ini  saya nimbrung yayasan dulu deh. Belom ada modal untuk bangun. Untuk biayain hidup sendiri aja masih susah, gimana mau nampung hidup nya orang lain? Tapi saya percaya. Suatu saat ada jalan yang di bukakan Tuhan untuk segala pencapaian.

Saya masih miris aja lihat pendidikan di Indonesia, balita yang kurang gizi, kemiskinan. Yang salah sebenernya siapa sih?Dari pada mencari kambing hitam siapa yang salah, mending kita pikirkan bagaimana memberantas ini semua tanpa ngerepotin pemerintah :).

Dari Sebuah Keyakinan Sampai Sebuah Keraguan. Bagian ini sedikit berat. Otak saya agak susah untuk mengingat. Bang pandji ngomongin tentang sejarah. Nilai sejarah saya ga pernah lebih dari 50. Nilai ujian sejarah saya dari hasil ga berhasil nyontek aja Cuma 28.

Sejarah? Siapa yang menjadi sumber terpercaya terhadap sejarah? Siapa yang hidup pada zamannya? Berapa persen saya harus menaruh keyakinan pada cerita sejarah? Saya paling males baca buku sejarah. Dulu saya udah males sama guru sejarah, berdampak pada males pula belajar sejarah. (ini nih yang ga baik).

Nah kebetulan bang Pandji bahas tentang Bunda Teresa yang mana beliau pernah kehilangan keyakinannya, Bunda Teresa hampir 10 tahun tidak merasaka kehadiran Tuhan.

Sama hal nya seperti saya yang mungkin sampai sekarang masih meragukan Yesus yang di anggap sebagai Tuhan dan isi dari alkitab adalah sebuah kebenaran.  Dulu saya orang yang cukup sering ke gereja, ikut sekolah minggu, lomba-lomba di gereja juga saya ikutin. Tapi beranjak dewasa dan saya sudah bisa bertanya-tanya maka mulailah ragu. Bukan ragu sih, hanya saja saya butuh seseorang yang bisa memberikan jawaban.

Bagaimana Yesus bisa dikatakan Tuhan, ketika yang saya tau Tuhan itu tidak beranak dan di peranakan. Bagaimana kebenaran tentang isi alkitab? Sudah berapa tahun ia beredar? Siapa penulis nya? Apakah sumber terpercaya?. Terkadang ketika kita berkomunikasi/ menyampaikan pesan yang sama, mereka si penerima bisa menerima nya secara berbeda. Yang sampai tak seperti maksud si sumber.

Sering kali saya mempertanyakan hal-hal seputar agama yang saya anut. Terus terang saja, saya ga pernah dikasih kesempatan untuk memilih agama apa yang mau anut. Karena saya lahir dan tumbuh besar di keluarga katolik. Sedari kecil sudah di baptis.

Dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak ini, jawaban yang gue terima hanya “Percaya saja dengan iman mu” Bagaimana saya mau percaya terhadap sesuatu yang ga saya pahami? Saya percaya kalau Tuhan itu ada, tapi yang belom bisa diterima adalah bagaimana Yesus di katakan Tuhan?

Dari Menjadi Murid Sampai Menjadi Guru. Kalimat ini otomatis mengingatkan saya langusng pada adek saya yang baru saja lulus SMP. Dulu dia seorang murid disalah satu tempat kursus bahasa inggris. Dan sekarang dia menjadi pengajar di tempat itu. Gurunya sendiri yang minta dia untuk bantu beliau ngajar. Siapa yang di ajar? Anak-anak dari kelas awal sampe level lanjutan. Kadang saya juga sering minta tolong dia revisiin tulisan yang dalam bahasa inggris :p.

Selama tiga tahun dia di SMP, dia selalu menjadi juara satu untuk satu sekolahan. NIlai tertinggi. Dia juga sudah dua kali ikutan olimpiade sains. Nah karena itu juga saya bisa nimbrung dia ke Makasar. Soalnya lomba di adakan di Makasar dan lomba kedua di Manado. Adek saya dapet penghasilan dari lomba. Amazing lah dia!

Berbicara masalah pendidikan? Ungg… sepertinya saya belum mempunyai kapasitas untuk berbicara tentang pendidikan di Indonesia. Jadi bahas sebagian kecil saja ya.

2010 lalu saya ikutan program COP (Community Outreach Program) atau sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang di adakan oleh kampus. Nah di tempat pengabdian itu nama nya Dukuh Mboso di Kediri, Jawa Timur. Tidak ada sekolah di tempat itu. Ya memang sangat kecil. Desa itu hanya di huni oleh 44 kepala keluarga. Jadi anak-anak mereka kalau mau sekolah kudu ke desa sebelah. Kegiatan saya di sana sih bangun desa. Dan saya juga buat program PAUD sendiri. Di sini saya menyadari bahwa pendidikan untuk daerah ini sangat kurang. Baik dari anak-anaknya maupun orang tuanya.

Tahun 2011 saya ikutan COP lagi, tapi sebagai panitia atau volunteer nya. Bupati nya situ cerita klo mereka kekurangan. Berharap beberapa orang dari kami mau jadi orang tua asuh untuk anak-anak di desa-desa sana. Bah.. bagaimana pula!! Bupati sampe ngomong begitu.

Minta tolong sama mahasiswa, dan minta tolong sama orang luar. Malu -_-.

Dan dari sanalah saya mulai berpikir apa yang bisa saya lakukan tanpa ngerepoti pemerintah? Apa yang bisa saya lakukan dengan diri saya sendiri? Banyak rencana yang ingin saya jalan kan, mulai dari mana?

Mungkin saya baru bisa memulai dengan memberikan buku atau alat belajar untuk anak-anak penjual koran di sekitar Mall, atau di sekitar lampu merah. Atau sekedar makan malem bersama jika saya punya rejeki lebih untuk mereka. Mungkin saat ini saya cuma punya dan bisa sumbangi waktu dan tenaga saya buat denger cerita anak-anak jalanan itu. Saat ini  cuma bisa luangkan waktu untuk kunjungan ke panti-panti. Ngelihat perkembangan adek-adek di sana. Ya memang ga ada perubahan dalam kehidupan mereka, tapi buat saya itu ada. Setidaknya itu bisa jadi bahan perenungan dan bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan. Baik buruk sebuah keadaan selalu ada sisi positif yang Tuhan selipkan. Bersyukurlah selalu. Boleh marah terhadap keadaan tapi jangan lewat dari dua detik atau sebelum matahari terbenam marahmu sudah harus reda.

Dari semua yang saya tuliskan, jujur saja, saya ga begitu mengenal Indonesia. Tapi setelah membaca buku Nasional.is.me ada susuatu yang membuat saya untuk “Yuk pelajari tentang Negaramu. Cari tahu lebih banyak lagi dari apa yang kamu ketahui sekarang. Biar nanti klo si bule bertanya, kamu ga malu-maluin untuk cerita tentang Indonesia, atau setidak nya tentang Sumatera lah :)”

Selain tentang bukunya, saya  juga mau bahas dikit tentang musiknya. Siapa yang belom denger lagunya bang Pandji? Apakah kalian suka? Klo saya sih suka 🙂

Memang sih kelihatannya  bang Pandji (ga) bakal di undang untuk ngisi acara di Dahsyat dan ditemani dengan gerakan cuci baju dari para penonton?. Tapi sesekali boleh lah di denger, dengan bahasa yang ringan, alunan musik dan beat-beat yang ceria (buat saya) lagunya bang Pandji cukup enak didenger.

Saya ga tau, dari mana bang Pandji mendapat ide-ide hebat dalam menciptakan lagu, mungkin realita, itu yang menjadi ide.

Dan akhir dari tulisan ini, saya pengen ketemu bang Pandji. Pengen ngobrol sama sosok hebat itu. Kali aja bang Pandji bisa kasih saya jalan untuk ide-ide dan mimpi-mimpi lainnya 😀

Dengan tulisan ini saya berharap juga setelah ini di post, saya ga hanya nulis artikel lanjutan saja, tapi melakukan sesuatu untuk memulai perubahan.

Sederhananya : “Anda hidup di zaman ini karena Anda ditakdirkan untuk berkarya dan membangun Indonesia menjadi lebih baik” — Pandji

Advertisements

5 thoughts on “Pandji Pragiwaksono :)

  1. keren. semoga orang Indonesia makin sadar untuk bersatu, jangan gontok2an. itu mah 4l@y banget. 😳 dan semoga kita bisa berbuat walau sedikit untuk Indonesia. merdeka! hehe.

  2. yap buku Nasional.Is.Me bener bener keren, mempertanyakan apakah kita mencintai Indonesia setelah mengetahui fakta-fakta bagus dari Indonesia dan apakah kita (masih) mencintai indonesia? setelah mengetahui fakta-fakta buruk di Indonesia, dan lebih keren lagi kalo nonton film Hope nya bang andibachtiar yg di bintangi bang pandji itu (ada di bab “Dari sebuah keyakinan sampai sebuah keraguan)

    andaikan lagu Menolehnya bang pandji dan film Hope nya bang andibachtiar di setel di TV Nasional, gak kebayang deh segimana ombak Nasionalisme menghatam rakyat Indonesia.

    btw, nice post!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s