Rest In Peace

Belum lama ini nenekku di panggil Tuhan. Ada satu rasa bersalah, karena aku meminta Tuhan untuk mengangkat semua sakit penyakit nenekku, karena aku tak tahan melihat keadaannya yang “terabaikan”. Tuhan mendengar doaku, tapi lha kok yang diangkat sekalian orangnya?. Mati. Selesai diusia 92 tahun. 

Nenekku orang yang sehat, hanya saja kalau tidak salah setahun belakangan ini mulai sakit-sakit. Tiba-tiba drop, ada infeksi paru-paru, mungkin karena batuk yang tak kunjung sembuh. Oktober lalu, beliau masuk rumah sakit, ICU. Aku berpikir ini tidak lama lagi, karena ini adalah drop terparah selama beliau tinggal bersamaku. Ternyata tidak, Tuhan membiarkan beliau “baikan” dan pulang kerumah, tapi ya begitu, dengan kesehatan yang naik turun. Aku harus menyediakan tabung oksigen di sampingnya, setiap hari dia hanya terbaring di kamarnya. Dan kian hari pandangan matanya menjadi sayu.

Aku bukan orang yang mengurusnya setiap hari, karena ada pembantu yang menjaganya. Tapi setiap akan berangkat kerja, aku akan mengintip bangaimana keadaannya, begitu juga kalau aku pulang kerja.

1 atau 2 bulan terakhir nenekku tidak bisa tidur lurus, persendiannya sakit. Jadi harus banyak di sanggah dengan bantal. Kadang dia sudah tidak kuat untuk menompang dirinya sendiri. Aku berdoa pada Tuhan, agar menghilangkan sakit di tulang dan persendiannya. Tidak lama, nenekku bisa tidur dengan posisi berbaring seperti orang normal. Tanpa rasa sakit. Sampai-sampai pembantuku tak tega menbangunkannya, karena sudah lama nenekku tidak tidur sepulas ini. Ternyata (mungkin) ini tanda beliau sudah mau mokat.

Sekitar januari pertengahan,tanggal 16 Januari,  nenekku benar-benar drop, semua anak-anak dan cucunya berkumpul di rumahku, tapi tidak di bawa ke rumah sakit, akupun hanya diam.

Nenekku tidak membuka matanya, katanya karena albuminnya kurang, makanya bawaannya ngantuk terus. Tapi dia masih bisa makan dan merespon. Hanya matanya saja yang tertutup. Sekitar jam 11 malam, anak-anak dan cucunya pulang. Tinggallah aku, nenekku dan pembantuku. Jam 11.20 wib pembantuku memanggilku, minta tolong untuk bantu bangunkan nenekku. Karena pembantuku mendengar nenekku seperti mulai tersengal. Anak-anak dan cucunya di telpon untuk kembali. Dan inilah pengalamanku yang pertama.

Aku bersama pembantuku berusaha memanggil-manggil nenekku, berusaha membangunkannya.

“Pho.. pho..” aku mengoyangkan kakinya. Lidahnya masih bereaksi seperti orang menelan sesuatu, tapi mata tetap terpejam.

“Pho.. phoooo.. phooooooo” aku terus memanggilnya sambil memencet jempolnya, masih ada reaksi, tapi matanya tak terbuka.

Pembantuku pun terus  meneriakinya, memanggilnya dekat dengan telinganya. Tak ada reaksi, pembantuku keluar kamar, aku memberanikan diri memegang dadanya, merasakan detak jantungnya. Tidak ada.

Aku terdiam. Tidak ada detak. Apakah ini sudah selesai? Apakah sudah mati? Tuhan ini bagaimana? Mati atau engga? Tuhan ? Tuhan? Apa sudah selesai? Aku tak menangis sedikitpun, rasamya air mataku tertahan dengan pertanyaan “ini mati apa engga?”

Tidak lama, anak-anak dan cucunya sampai di rumahku, menantunya memeriksa detaknya, dan memang sudah ada. Tapi aku masih tidak percaya, karena aku masih melihatnya bereaksi saat aku panggil. Akhirnya aku memutuskan untuk panggil dokter saja, biar dokter yang memastikan. Dan ternyata benar, nenekku meninggal malam itu.

Nah pad saat dokter, perawat dan supir ambulance datang, eh ternyata bapak supr retsletingnya lupa ditutup. Dan dalam keheningan karena dokter masih memeriksa nenekku, tiba-tiba pembantuku terbahak.

“Hahaha.. pak sletingnya kebuka”

Suasana awkward dan absurd itupun ditanggapi dengan keheningan.

Setelah itu kami semua segera mengurus pemakamannya. Tengah malam itu aku bersama mobil jenazah membawanya ke rumah duka untuk di mandikan. Sepanjang perjalanan aku merasa biasa-biasa saja, tidak kehilangan apapun.

Sampai pada proses kremasi, aku tidak menangis. Anak-anak dan cucunya yang lain menangis, apalagi anak perempuannya termasuk ibuku nangis sejadi-jadinya. Aku tidak. Entahlah, kali ini Tuhan memberi kekuatan untukku agar tidak menangis, padahal aku paling cengeng diantara yang ada. Kata teman –temanku, mungkin karena aku memang sudah siap dengan semau ini. Entahlah.

Dan beberapa hari setelah kremasi, aku mulai merasa ada yang hilang di rumah ini. Dan kembali mengingat kejadian malam itu, malam di mana aku melihat nenekku menghembuskan nafas terakhirnya. Tanpa suara dan semuanya tenang. Meninggal dalam posisi berbaring normal, tanpa rasa sakit, dan wajahnya tampak sehat, cerah dan tenang.

Ada yang bertanya mengapa saat anak-anak dan cucu-cucunya di rumahku, nenekku masih terlihat “baik” tapi setelah mereka pulang, nenekku pun pamit? Jawaban dari beberapa orang “Karena nenekku tak ingin anak-anak atau cucu-cucunya melihat dia pergi” Lalu aku?

Ah sudahlah.. aku senang, Tuhan menyembuhkan sakitnya, aku percaya hidupnya bukan dibinasakan namun diubah menjadi kehidupan kekal dan bahagia bersamaNya. Dan satu hal, aku melepaskan semua kebencianku dan memaafkan segalanya seiring dengan kepergian nenekku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s