Surat

Hutan adalah salah satu tempat favoritku untuk berdiam. Hutan mampu membungkam ingar-bingar suara-suara yang menjemukan pada jalanan kota.

Ke atas sedikit dekat dengan rumahku ada hutan cemara di sana. Kadang aku suka ke sana. Di sana mampu ketemukan banyak inspirasi.

Aku akan melihat binatang penyerbuk Papilio Blumei atau Pure Clouded Yellow. Dua bidadari menawan yang terbang kesana kemari, kepak sayap hitam bergaris biru dan si kuning berbintik metalik membentuk harmonisasi warna yang indah. Apalagi ketika mereka memutari dedaunan hijau. Ahh salah satu ciptaan Tuhan yang maha sempurna yang dapat kau temui.

Ku biarkan tubuh ini terbaring pada pelataran yang di hiasi rumput teki.
Ku biarkan aroma hutan menyeruak kedalam paru-paruku.
Ku biarkan suara-suara penghuni hutan mengisi telingaku.

Sesekali ada tupai yang melintas. Dan aku mengucap syukur bukan seekor harimau yang bersuara.

Ku biarkan semilir angin yang lalu lalang membelai kulitku.
Ku biarkan langit jingga terang ini mengisi pandanganku.
Hari ini aku ingin menulis surat. Di kirim atau tidak itu perkara nanti.

*

Untuk Kalian,

10 tahun lalu, aku seorang anak melayu kampung yang dilempar ke pulau Jawa untuk bersekolah. Tapi sayang jauh-jauh aku disekolahkan, aku tidak bisa memilih sekolah terbaik yang ada di sana. Alasannya sederhana, karena anak-anak kalian bersekolah di sana, jadi ibuku angguk saja apa kata kalian. Tahun demi tahun berlalu, dan aku tahu kalian tidak benar-benar ada. Aku menjalani kehidupanku sendiri. Tapi itu bukan masalah buatku. Menjadi minoritas sudah pernah aku alami sebelumnya.

Aku hanya ingin menyampaikan apa yang ada di benakku. Jika kalian  kelak membacanya, aku harap kalian jangan marah. Sebab ini hanya opiniku. Dan lagi bukankah selama delapan tahun belakangan ini aku hanya bungkam dan tidak marah dengan kelakuan kalian?

Om, tante, paman, bibi, kakak, adik, abang. Sejujurnya panggilan itu aku layangkan hanya sekedar menghormati silsilah yang ada dalam tradisi orang tionghoa dan ibuku. Aku jarang sekali sepenuhnya menggapkan kalian saudara dengan panggilan seperti itu. Karena orang di luaran sana juga aku panggil mereka demikian.

Dulu aku mendambakan sebuah kehidupan hebat di kota besar. Tapi sayang skenario yang sudah aku buat harus di re-write lagi, karena kalian dengan seenaknya merusak scene ku.

Melihat prilaku kalian, aku nyaris menjadi psikopat. Cerita-cerita pendek yang aku tuliskan, terkadang mendapat komentar “Sadis”, “serem”, “Apa itu kisah nyata?” dan lain sebagainya dari pembacaku.

Ku akui terkadang moral ku tak lagi baik. Rasa ibaku mati.

Untuk paman ku, aku tak tahu apa yang membuat mu dan istri mu menolak si tua itu. Apa kau sudah lelah dengan penyakit diabetes yang mulai mengerogoti tubuh mu?
Aku juga sudah lelah dititipi ibu kalian selama ini.

Untuk bibi ku, aku cukup prihatin dengan keadaan mu, semenjak paman terhebat itu meninggal dunia, aku tak tahu lagi dari mana pendapatanmu. Anak-anakmu tampaknya sudah sibuk sendiri-sendiri, bahkan kau mengalami masalah hubungan dengan anak lelaki tertuamu. Anak bungsumu tampaknya mulai mengabaikanmu ya? Jadi hanya anjing-anjing mu yang mengisi hari mu. Apa kau tak kesepian?
Sudah ku sarankan untuk membawa si tua itu pulang bersamamu, agar kau punya teman bicara. Tapi kau pun menolaknya. Dengan alasan yang tak rasional.

Berbicara tentang paman terhebat itu, terkadang aku merindukannya. Dia tampaknya satu-satunya orang yang peduli secara tulus terhadapku. Aku rindu di antar kesekolah dengan vespa bobrok itu atau dengan motor dua tak yang reot itu. Aku rindu dengan ocehannya karna aku terlambat pulang tanpa memberi kabar. Makanya, kenapa pada saat pemakamannya aku yang menangis paling keras. Ahh.. membicarakan hal ini membuat aku kembali ingin menangis.
Tapi bibi, tenang saja. Jika kau butuh sesuatu dan anak-anakmu mengabaikanmu, mungkin kau bisa dengan rendah hati atau secara biasa saja meminta pertolonganku, sebisa mungkin aku akan menolongmu tanpa merperhitungankannya dengan nominal.

Untuk tanteku, alasan “tak ada kamar” yang kau pakai untuk si tua itu sesungguhnya sangat menyakitkan hati. Apakah saat kau membeli rumah, kau dan keluargamu tidak memperhitungakan kamar untuk si tua itu? Kalau-kalau dia datang sebagai tamu sementara ataupun tamu permanen?

Oh., mungkin kalian lupa. Karena kalian terlalu sibuk. Tante sibuk dengan arisan dan drama korea. Om sibuk dengan bisnis yang aku kurang tahu. Dan anak-anak kalian sibuk dengan kegiatan bebas mereka.

Untuk om terkecil, aku tidak akan menuntut apa-apa darimu. Karena aku paham betul dengan keadaan keluargamu dan apalagi istrimu yang suka mengoceh sepanjang hari. Aku paham.

Dan apakah kalian semua tahu, terkadang aku suka ribut dengan ibuku, yang terlalu pasrah dengan keadaan dan tak tahu harus berbuat apa dengan prilaku kalian ini. Aku rasa masing-masing otak yang kalian miliki sudah terlalu lama disimpan di dalam mesin pendingin. Dan kalian mungkin termasuk tipe “habis manis sepah di buang”. Si tua itu sudah cacat dan tak berguna, bisa nya hanya merepotkan orang. Makanya kalian dengan semangat menolak dan mati-matian jika terpaksa harus menjaganya.

Sejujurnya aku tak masalah jika si tua itu ikut denganku dan ibu ku terus membiayai kebutuhannya. Tapi aku hanya meminta satu pengertian kalian, jika sewaktu-waktu aku ingin keluar kota atau aku ada keperluan, aku harap kalian mau dengan suka rela menjaga si tua itu sebentar saja. Hanya memberinya makan secara rutin.

Mungkin kalian harus aku kenalkan pada bibi tertuaku di Bogor, istri dari paman pertama. Beliau menjaga dan merawat ibu tak sedarahnya dengan penuh ketulusan. Memandikannya, membersihkan kemaluannya, menyuapinya, mengajaknya bicara, dan yang paling menjijikan membersihkan hajatnya. Beliau rela meninggalkan “dunia” hanya untuk mengurus mertuanya yang sudah renta itu. Bahkan kadang aku suka meneteskan air mata yang aku samarkan dengan menguap, bila aku melihat ketulusan dan bakti beliau.

Tapi jika tidak ada perubahan dari kalian, ya baiklah. Aku yang akan berubah. Dan semoga Tuhan menuntunku pada perubahan yang baik.

Sebenarnya aku ingin bicara langsung dengan kalian, tapi aku tak mau ada tamparan melayang di wajahku. Tidak sakit sih, tapi panas. Dan lagi, aku tak yakin jika kalian mau mendengarkan kebenaran ini. Kebenaran itukan menyakitkan. Aku tidak bisa memastikan kalian punya mental dan hati yang lapang untuk menerimanya.

Karena menurutku selama ini kalian hidup dalam kemunafikan. Setiap minggu ke gereja, menerima komuni, mendengarkan firman Tuhan. Mendengarkan homili dan hal baik yang romo beritakan. Tapi selepas kalimat penutup “Perayaan ekaristi sudah selesai, pulanglah kalian diutus”. Kalian semua langsung berbondong-bondong berebut keluar. Dan kalian lupa apa yang telah romo beritakan, karena kalian sibuk mencari mobil kalian masing-masing.

Padahal dalam firman Tuhan mengajarkan tentang kasih, hormat kepada orangtua dan bahkann itu ada dalam sepuluh perintah Allah.

Ahh sudah lah, tampaknya pembahasan ini akan menjadi hal yang membosankan bagi kalian. Karena kalian tahu aku jarang ke gereja dan mendengarkan hal baik dari mulut romo. Aku tak lebih dari seorang berandal. Seperti yang di teriakan guru kewarganegaraan ku saat aku duduk di bangku SMA.

Penutup untuk surat ini, semoga kalian menua dalam kebahagiaan ya. Jangan sampai kalian bernasib sama dengan si tua yang kalian abaikan.

Semoga kalian semua dijauhkan dari sakit penyakit dan pundi-pundi keuangan kalian semakin menumpuk, sehingga tak perlu ibuku terus yang membiayai si tua itu. Dia kan milik kalian bersama. Hiduplah dengan rukun.

Salam.

Aku menutup surat ini dengan buru-buru. Aku harus segera turun sebelum adzan mahgrib dari masjid dan surau bersaut-sautan. Terlebih aku tak mau mengorbankan darahku untuk nyamuk-nyamuk hutan ganas ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s