Masakan Nomor Wahid :)

Tuhan itu sungguh lucu. Ia tidak menciptakan saudara sedarah terbaik, tapi Ia menciptakan tetangga terbaik untuk ku

Orang – orang di sini mengenalnya dengan nama AA, Anthony nama aslinya. Aku memanggilnya Aku AA. “Aku” untuk orang tionghoa artinya paman.

Dia adalah tetangga ayahku. Dulu dia berdagang rokok. Jika sudah tutup toko ia suka mengajak ku jalan-jalan naik motor, mengelilingi kotaku yang amat kecil.

Aku duduk dimuka, terkadang ia membiarkanku memegang kemudi, hanya bagian gas dan rem saja. Dari dia pulahlah saat usiaku 12 tahun aku sudah bisa mengendarai motor. Honda Astrea tua, aku masih ingat betul.

Perawakannya terbilang besar, wajahnya cukup merepresentasikan wajah orang tionghoa.  Ia orang yang tidak sabaran, sangking terburu-burunya bicara, terkadang ia terdengar seperti orang gagap. Ia menikah, mungkin saat usianya sudah kepala tiga. Ia dan istri nya membuka sebuah mini market. “Aking” ini panggilan untuk istrinya, yang berarti bibi.

Dalam pernikahan mereka, mereka di karunia dua orang anak. Perempuan dan laki-laki, dan entah bagaimana secara otomatis mereka memanggil orangtua ku papi dan mami. Sesungguhnya kami tidak memiliki hubungan darah, tapi kami sangat dekat.

Aku AA sangat jago masak, sambel teri jengkol dan sop adalah masakan andalannya. Ia sering memberikanku makanan yang itu-itu saja. Tapi aku tidak pernah bosan dengan yang itu-itu saja.

Jika jam 11.45 ada telpon berdering, bisa dipastikan bahwa itu telpon dari Aku AA bahwa dia sudah selesai memasak dan makanan datang. Jika pada jam 13.15 ada telpon berdering lagi, bisa dipastikan juga kalau telpon itu dari dia lagi. Dia akan bertanya bagaimana rasa masakannya.

Namun jika sampai 13.30 aku belum makan dan belum memberikan jawaban atas rasa masakannya, dia akan mengomel. Mungkin bagi sebagian orang yang tidak mengenalnya, akan mengira apa yang dia lakukan sangat berlebihan. Tapi tidak, memang begitulah dia. Dia takut aku kena maag. Sampai lewat jam makan siang, aku tak kunjung makan. Sangking pedulinya dia, dia memang terkesan berlebihan.

Dia sangat suka mendengar pujian, tak jarang aku terus mengatakan bahwa makanannya adalah yang nomor wahid, tak ada tandingannya. Jika kalian bertanya apa benar demikan? Sebenarnya tidak juga sih,  rasanya biasa saja, tapi yang jelas aku tidak akan pernah bosan dengan masakannya yang itu-itu saja.

Untuk masalah pendidikan, aku rasa ia tidak memiliki pendidikan yang terlalu tinggi. Terkadang ia tidak mampu mengikuti ilmu pengetahuan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Maka tak jarang ia mencari ayahku untuk sekedar bertanya.

Tapi apa peduli ku? Walaupun dia tidak terlalu pintar, tapi dia memiliki pengetahuan yang cukup tinggi tentang bagaimana mencintai dengan tulus dan membahagiakan orang-orang di sekitarnya.

Sampai saat ini, saat aku sudah menjadi seorang sarjana, jika aku pulang kampung dia masih suka memasak sambel teri jengkol untukku. Dan lagi-lagi dia akan bertanya “Bagaimana rasanya?”

Advertisements

2 thoughts on “Masakan Nomor Wahid :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s