Sirkus dan Ayah 8 Anak

Waktu aku umur belasan tahun, ada sebuah pertunjukkan sirkus yang di gelar di kota ku. Ayah mengajak ku untuk menonton bersama.  Tempat sirkus itu sangat ramai. Ada beberapa orang dengan kostum badut, dan beberapa dengan kostum binatang lucu.

Sesekali aku memandangi sekeliling, banyak juga penjual gulali, gelembung balon dan mainan lainnya. Anak-anak berlarian. Badut-badut bersenda gurau. Mata ku terpaku pada poster pertunjukkan yang kelihatannya sangat seru dan ramai. Ada gambar harimau, gajah, kucing, dan beberapa binatang laut serta berbagai jenis burung yang akan beratraksi. Ini yang akan kami tonton. Aku tak sabar.

“Ren, ayo. Tinggal satu keluarga lagi yang mengantri di depan kita. Bersiap lah untuk pertunjukkan ini” Seru ayah ku yang berada pada garis antrian.

Ya tinggal satu baris antrian sebuah keluarga, sepasang suami dan istri dengan delapan orang anak. Keluarga yang cukup ramai. Anak-anak nya sangat senang sekali, mereka delapan bersaudara itu saling berguman, mereka tak sabar ingin melihat atraksi burung bersepeda, harimau menari, dan atraksi luar biasa lainnya.

Tiba Ayah dari delapan bersaudara itu memesan tiket masuk

“Selamat sore”

“Sore, butuh berapa tiket?”

“Delapan anak-anak dan dua dewasa”

“Baik, semua nya Rp.90.000”

“Apa? Rp. 90.000?”

“Iya, Rp.7500 untuk anak-anak dan Rp.15.000 untuk dewasa”

Sang ayah menatap anak-anaknya yang telah tak sabar, sementara masalah besar di depan mata, Ia hanya mempunyai uang Rp. 70.000 saja. Dengan terpaksa acara keluarga nya harus di batal kan. Tapi sepasang suami ini pun tak tega melihat kebahagiaan anak-anak nya pupus, karena uang tak mencukupi.

Tiba-tiba Ayah ku yang melihat hal ini, merogoh kantong celana nya, dan menjatuh kan uang Rp.20.000. Aku tak paham maksud Ayah ku.

“Maaf pak” sapa Ayah ku pada Ayah delapan anak ini

“Ya, maaf. Saya membuat Anda lama mengantri?”

“Tidak, ini uang Rp.20.000 Anda terjatuh”

Ayah delapan anak ini kebinggungan, Ayah ku tersenyum dan mengedipkan mata. Akhir nya ia menangkap maksud Ayah ku.

“Terima kasih, terima kasih sekali. Uang ini sangat berarti bagi keluarga ku”

Ayah ku hanya melontarkan senyum simpul. Dan kami pun beranjak dari tempat itu. Menaiki sepeda motor tua dan kembali pulang. Padahal keluarga kami tak lebih kaya dari mereka. Ayah ku pun harus bekerja ekstra untuk mendapat kan uang lembur.

Di perjalanan…

“Maaf nak, Ayah tak bisa mengajak mu melihat sirkus. Mungkin lain kali. Ayah berjanji akan bekerja lebih giat lagi”

Aku hanya tersenyum

“Tak apa yah, aku tak melihat sirkus. Tapi aku melihat Ayah yang hebat”

Advertisements

2 thoughts on “Sirkus dan Ayah 8 Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s