Senyum dan Ikhlas

23 Maret 2012, #CeritaHariIni agak berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya. Aku merasa sangat lelah sekali. Rasanya aku sudah tidak mampu menahan beban yang selama ini di berikan padaku. Tentang sebuah tanggung jawab yang seharusnya bukan untukku. Tapi aku harus menerimanya, dengan alasan yang tidak masuk akal buatku.

Hampir seumur hidupku, aku berada dalam aturan yang harus aku ikuti. Aku pikir selepas aku kuliah aku bisa menjalankan hidup dengan aturan dan keinginanku sendiri, tapi ternyata tidak. Aturan dalam keluarga masih merangkulku erat.

Aku punya banyak mimpi, salah satunya menjadi seorang penulis dan terkenal. Tapi tak satupun dari keluarga ku yang mendukungku. Mereka lebih berharap aku berseragam rapi dan memiliki sebuah jabatan yang hebat. Aku sempat membayangkan diri ku mengunakan stiletto tinggi, blazer mewah, riasan anggun yang membuat aku tampak begitu mahal. Membuat aku mempunyai status sosial yang cukup tinggi. Aku pernah membayangkan kehidupan seperti itu. Tapi bukan itu yang aku mau.

Aku ingin tetap tampil apa adanya. Siapa aku dengan segala aturan hidupku. Jika kelak kalian akan melihat aku dengan segela kemewahan yang aku miliki, aku ingin kalian tahu bahwa itulah hasil kerjaku.

Lupakan dengan mimpi mulukku. Karena aku harus kembali ke kehidupan nyata. Di mana aku masih berjuang mencari cara mewujudkan mimpiku. Kata ibu ku “terkadang kita harus berkorban” dan sayang nya aku bukanlah gadis dengan hati malaikat, yang akan berkorban demi orang lain dan melepaskan mimpi masa mudanya. Ya terus terang saja aku katakan. Aku tak sebaik itu.

Hampir 10 tahun ini aku menjalankan hariku dengan rasa tidak terima. Aku jarang tersenyum. Aku lupa cara nya tersenyum karena kebencian yang terus bertumbuh dalam hatiku. Dan kalian tahu bagaimana rasanya hidup dalam kebencian? Sangat tidak enak. Membohongi diri sendiri, berpura-pura. Berpura-pura bahwa kau telah menerima keadaan yang tidak semestinya kau ada di sana.

Hari ini, aku tak dapat lagi menahannya. Aku benar-benar capek jika harus seperti ini. Aku merindukan diriku yang dulu. Aku merasa kehilangan, bukan keluargaku, tapi kehilangan diriku sendiri.

Sampai akhirnya, untuk #CeritaHariIni, aku bertemu dia. Seorang pria dengan perawakan tinggi, bukan tipikal pria rapi. Justru cenderung seperti brandal. Tipe-tipe orang yang biasa dipandang sebelah mata dengan orang lain. Tapi buatku dia seorang pria konyol, dia lebih muda dariku. Tapi cukup memberikanku rasa nyaman. Perlahan, dia membangkitkan semangatku lagi. Perlahan dia menunjukkan padaku bahwa hidup tak terhenti karena hal yang tidak kau inginkan. Ia mengajariku cara nya kembali tersenyum. Berusaha untuk ikhlas dan berdamai pada keadaan. Terlebih pada berdamai pada diriku sendiri.

Aku mendapatkan senyumku kembali. Berdamai dengan keadaan dan diriku. Ikhlas menjalankan semuanya dan percaya masih ada cara untuk mengapai mimpi-mimpiku. Senyum sebuah garis lengkung yang mampu meluruskan segalanya.

Advertisements

2 thoughts on “Senyum dan Ikhlas

  1. Tersenyum waktu kamu lagi berbeban berat. Tapi dengan rasa ikhlas ya mudah deh 🙂
    jadi inti nya yang berat itu senyum nya atau ikhlas nya? 😀

    btw thanks udah mampir 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s