Tampaknya Ia Begitu Dekat Dengan Tuhan :)

Jumat, tangga 22 april 2011 adalah hari jumat agung, dimana aku dan umat katolik lainnya menjalani upacara penghormatan salib. Seperti tahun-tahun sebelumnya aku selalu merayaknnya sendiri. *nasibjauhdarikeluara*
Aku datang 30 menit sebelum misa di mulai. Aku selalu suka duduk di barisan paling depan, dan tepat lah setelah ruangan gereja yang nyaris padat itu, aku mendapat satu tempat kosong di barisan paling depan, dekat sekali dengan meja altar. Di samping kanan ku seorang ibu dan anak nya di samping kiri ku mungkin seorang nenek dengan anak dan cucu nya. Nah cucu nya ini yang menarik perhatian ku. Dia ada sedikit keterbelakangan mental (mungkin) atau sesuatu yang membuat dia menjadi abnormal dimata orang umum, tapi begitu sempurna dimata ku.
Sepanjang misa dia tak berhenti berceloteh, entah apa yang di bicarakan, sesekali ia membaca alkitab yang tersedia di bangku umat. Sesekali ia membersihkan ingus nya. sesekali ia bertanya pada Ibu nya. Dan sesekali pula ia seperti orang mengerang.
Ow ya, anak ini adalah seorang anak laki-laki yang mungkin usia nya masih 8-12 tahun. badannya cukup jangkung, hampir sama dengan ibunya, Matanya tanpa lipatan tapi tidak terlalu sipit, kulitnya putih dan tampaknya badannya sedikit bungkuk. ia hanya mengenakan kaos ablong dan celana pendek saat itu. Mataku terus memandanginya sesekali aku tertawa kecil dengan celotehannya.
Saat penghormatan salib pun tiba, aku tak begitu memperhatikan apakah dia ikut penghormatan itu apa tidak, aku pun tak sadar aku sedang apa saat itu sehingga perhatian ku pada anak itu luput. Setelah acara penghormatan salib, masuk pada perayaan ekaristi. Dimana kami umat katolik yang telah menerima skramen komuni bisa menerima tubuh kristus yang di simbolkan lewat roti. Dan anak-anak yang belum menerima sakramen itu bisa mendapat berkat melalui tanda salib yang ditorehkan di dahinya.
Saat aku maju, Ibu dan anak ini tidak maju. Ternyata mereka menunggu sepi, karena si anak ini tidak suka pada keramaian dan anak kecil. Ibunya menyuruh nya menunggu, sementara Ia sudah tak sabar ingin segera maju dan dapet berkat. Tangannya menyilang menutupi dadanya. Ia begitu girang tapi sesekali ia mengomel karena ibunya tak kunjung membiarkannya maju kedepan. Ketika barisan umat sudah mulai sepi, ia pun maju. Dan aku rasa ia maju dengan segala kerendahan hati nya. begitu sampai di depan pastor, ia menunduk dengan tangan tetap tertempel di dadanya. dan begitu pastor memberikan berkat melalu tanda salib yang di torehkan kedahinya, ia pun segera mengangkat kepala dengan senyum sumringah. Seakan-akan ia mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. Wajah nya seketika berseri. Ia tak berhenti berceloteh tapi kali ini tentang kegembiraan hatinya.
Dari sini aku bertanya “Siapa aku Tuhan? Siapa aku di hadapan mu?”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s