Julius Julitzar

Warna langit jelas menunjukan perbatasan senja menuju malam. Tapi langit tampak cerah, bulan mulai mengintip dari balik awan. Tak seperti hari-hari sebelumnya, senja ku di guyur dengan hujan deras. Aku duduk di beranda sebuah café, menikmati jingga nya langit, musik, secangkir kopi dan seorang pria.

Seorang pria yang membuat ku selalu tersenyum, seorang pria yang mempunyai tatapan mata yang menenangkan, seorang pria sederhana, senyumnya mampu menghilangkan kesalku terhadap keadaan, tutur kata nya selalu membuat aku terbahak, tingkahnya membuat ku tak habis pikir. Dan pesaraan yang sulit aku jelaskan muncul diantara setiap detak jantung ku.

Dialah alasan ku untuk tetap tersenyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s