Potehi yang tersisih :) (Celoteh sunyi wayang potehi)

 Hari minggu kemaren aku putuskan untuk mengunjungi kampung dukuh. Ada sebuah kelenteng tua disana. Hok Tien Hian itu lah namanya. Aku sengaja berangkat pada saat matahari dengan sok kuasanya sedang berada tepat di atas kepala. Panas. Tapi tak menyurutkan niat ku untuk melihat potehi berlakon. Dan karena memang jam satu siang itu lah saatnya potehi berceloteh.

Sesampai disana, aku melihat beberapa orang tua yang asyik bersenda gurau, mungkin mereka adalah warga kampung sekitar. Maklum kelenteng ini masuk pada kawasan kota tua di Surabaya.

 

Siang itu, seperti biasa. sepi. Tak banyak pengunjung. Tapi pukulan alat musik telah terlantun, tak jarang menimbulkan kebisingan, namun kebisingan yang sangat khas dengan tionghoa.

kelenteng ini dipenuhi dengan arsitektur khas tionghoa. Warna merah merajai tempat ini. Lilin-lilin menjadi penerang beberapa sudut kelenteng ini dan bau hio atau dupa menjadi pewangi ruangan ini.

Tak lama, alunan musik semakin kencang, suara pemain wayang pun telah memasuki cerita pembuka. Apakah ada pengunjung?  ada. Itu aku. Namun sekalipun tak ada pengunjung, mereka tetap berlakon. Ya, wayang potehi, sesuatu yang tersisish namun tetap menjadi sebuah tradisi.

 

(edited..blom selesai )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s