Mbah Rejo :)

Siapa yang masih ingat dengan mainan ini, otok-otok, kitiran, dan  kurungan?? Mainan tradisional yang kini sangat jarang ditemui. Di tengah ramainya serbuan mainan dari China, mainan tradisional seakan-akan dalam keadaan sekarat.

Bantul, sewon- Yogjakarta. Cuaca yang cerah, seorang nenek berjalan menuju tempat penjualan bambu. Usianya hampir memasuki usia 90 tahun. Tubuh ringkihnya berjalan tanpa alas kaki,  rambut nya telah memutih dan menipis, gigi nya hanya tinggal dua atau tiga yang berdiri dengan warna agak kekuningan.  Mata layu dan keriput pada wajah pun menjadi penghias wajah tuanya.

Beliau adalah Mbah Rejo, dan menurutku beliau adalah salah satu maestro terbaik. Seorang  maestro pembuat mainan tradisional yang saat sekarang ini (mungkin) tidak dilirik atau tidak diperhitungkan. Usia boleh tua, tapi tangan Mbah Rejo masih sangat terampil membuat mainan tradisonal ini. Seluruh proses beliau kerjakan sendiri.

Pemotongan bambu dengan mengunakan gergaji, dan tangan tua nya ini masih kuat memegang baja panas untuk mebuat lubang pada bambu. Dalam sehari Mbah Rejo mampu menghasilkan sampai 20 mainan dan hal ini juga tergantung pada kesediaan bahan.

Hasil mainan tradisional ini akan Mbah Rejo jual di pasar. Beliau menjual nya sendiri. Setiap hari nya Mbah haru berjalan sejauh 10 KM dan menghabiskan waktu sekitar tiga jam untuk sampai pada lapak nya. Lapak kecil, yang sesungguhnya ia hanya menumpang berjualan didepan emperan toko pedagang di pasar.

Hasil mainannya di jual seharga Rp.1000 sampai dengan Rp.5000 dan aku rasa harga ini terlalu murah, namun Mbah Rejo tak pernah memperhitungkan untung ruginya, bagi Mbah Rejo melihat senyum bahagia dari anak-anak yang mendapatkan mainannya itu sudah cukup, tak jarang Mbah Rejo memberi secara cuma-cuma untuk anak-anak.

Dalam sehari Mbah mampu menghasilkan uang Rp.20.000 sampai dengan Rp.30.000.

Mbah Rejo tinggal hanya seorang diri, di sebuah rumah yang sangat sederhana, sudah kurang lebih 40 tahun beliau menjadi pembuat mainan tradisional. Di usia senja  beliau memilih untuk terus berkarya, dan membawa mainan tradisional yang di hasilkan oleh tangan tuanya bersaing dengan mainan impor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s