Sang Penari

Ini cerita tentang sahabat ku Laras. Yang mengajarkan ku banyak hal tentang perjuangan. Sebelum nya Laras memang bukan berasal dari keluarga berada. Ia bertemu suaminya saat usia nya masih belia. Dan keputusannya untuk menikah dan menjalani bahterah rumah tangga termasuk keputusan yang berani.
*
Pagi menjelang, riuh rendah bunyi kendaraan pun tergaung kemana-mana. Orang-orang berdasi, berbaju safari dengan rokok menyala ditangan mereka, berkemeja, ataupun seragam siap untuk menjalankan aktifitas mereka. Menjalankan aktifitas yang bisa dikatakan sebagai aktifitas yang monoton yang membosankan. 
Perlahan waktu berjalan. Jarum jam menenggelamkan matahari, semakin turun. Menggambarkan jelas perbatasan senja yang akan berganti malam. Lampu-lampu kota pun telah bersiap menerangi keramaian malam kota Yogyakarta ini. Suara hilir mudik kendaraan tetap terdengar dari setiap sisi gang kota ini. Bila malam menjelang ini lah waktu bagi Laras untuk bekerja. Memiliki lekuk tubuh yang sintal dan molek serta wajah yang menarik tampaknya hal ini cukup menjadi modal bagi Laras untuk “berdagang”. Memperdagangkan setiap liuk tubuhnya kepada para pecandu malam.
Laras merupakan istri dan ibu dari seorang putri yang belum genap empat tahun usianya. Hasil dari warung krengsengan yang dibuka nya bersama suami tak cukup untuk membiayai hidup, apalagi membayar hutang yang selama hampir lima tahun belum lunas. Keadaan ini yang membuat Laras terpaksa bekerja menjadi penari sensual di bawah gemerlapnya lampu disko. Tak jarang Laras dipanggil untuk menari secara private dan tentunya dengan bayaran yang lebih mahal. Sang suami yang sekilas tampak kasar dengan badan tegap dan tattoo di tubuhnya sebenarnya mempunyai sifat yang sangat lembut. Jauh dalam hati pria bertatoo ini tak ingin istrinya menjadi pekerja malam, tapi tak ada pilihan bagi mereka. Sang suami telah berusaha mencari kerja, tapi tak satu pun tempat yang mau menerimanya.

“Dek” Sapa lembut suami nya…
“Ya mas, ada apa?” Laras menjawab sambil melontar kan senyum simpul.
“Maaf, karena mas tidak bisa bekerja kamu yang harus bekerja malam begini”
Laras tersenyum, dengan mimic muka yang tetap tegar
“Mas, bukan masalah bagi saya Mas”
“Tak menyesalkah kau hidup bersama ku Dek?” wajah suaminya pun semakin mengiba..
Senyum Laras semakin terkembang
“Cinta tak melantukan sesal Mas, kalau saya menyesal, saya tidak akan bertahan sampai sekarang”
*

Waktu semakin larut semakin dekat waktu Laras untuk bekerja. Sebelum bekerja biasanya Laras menidurkan putri kecilnya. Waktu bekerja pun datang, bersiap lah Laras untuk mendandani diri. Tangannya begitu lihai memoleskan gincu bewarna merah, menyapukan bedak di setiap sisi wajah ayu nya. Dengan pakaian seksi dibalik kemeja yang terbungkus jaket panjangnya, Laras pun melangkahkan kakinya untuk bekerja.
Tak lama Laras tiba di tempat yang dipenuhi oleh pecandu malam. Riuh rendah suara tawa orang-orang penikmat musik keras meneriaki Laras yang mana telah berada diatas panggung. Panggung yang diterangi gemerlap cahaya lampu disko, tak lama Laras pun seakan-akan telah terhipnotis dengan irama lagu. Tubuhnya meliuk, bergerak penuh semangat. Laras terus bergerak, bak kerasukan. Entah dari mana Laras mendapatkan kekuatan untuk terus menari selama enam jam. Ya dari pukul 9 malam sampai pada 3 dini hari hanya untuk uang Rp.20.000.
Tubuhnya yang terbungkus kemeja oranye yang tampak kebesaran terus bergerak, perlahan pakaian hitam ketat yang mempertontonkan belahan dadanya terlihat, ia melepas kemeja oranye nya itu. Dan lekuk tubuh yang terus bergerak itu memberikan sebuah pandangan gairah sensual dan menggoda terus di hantarkan oleh lekuk tubuh sang penari. Kepala terhempas kearah kiri dan kanan, berputar, pinggul bergoyang, dengan nafas yang naik turun sesekali memperlihatkan ekspresi wajah nakalnya. Malam kian larut, dentuman musik keras pun semakin mengelegar diruangan itu. Laras pun seakan semakin kesetanan. Bergerak dan terus bergerak.
Selesai pekerjaan sang penari sensual. Ia pun tak bisa langsung beristirahat. Ia harus pergi ke warung kecilnya dipinggir jalan, warung yang sempit dengan satu gerobak dorong dan dua pasang bangku kira-kira dua meter panjangnya serta satu buah meja yang seukuran. Tampak juga beberapa tumpukan piring yang tergeletak ditanah yang becek, ditempat ini lah sang suami menunggui Laras pulang bekerja. Dengan segera Laras membangunkan suaminya yang terlelap di emperan warungnya, mereka berkemas untuk pulang karena ada putri kecil yang mereka tinggalkan dirumah. Dan setelah itu baru lah Laras bisa terlelap di ruangan kecil rumahnya. Pada satu tempat tidur tanpa kaki ranjang, tempat ia dan keluarga beristirahat, dan dibawah remang cahaya lampu. Belum lama malam membungkus Laras, belum habis rasa lelahnya pagi pun telah datang menjemput.
Ia harus menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga. Tanggung jawab yang tak pernah Laras tinggalkan. Memandikan putri nya, menjaga, memberi makan dan sesekali mengejakan huruf ABC. Putri kecilnya inilah yang menjadi semangat Laras untuk terus bekerja tanpa mengenal lelah. Hanya satu impian Laras. Impian terbesar pada putri semata wayang nya. Yakni pendidikan yang tinggi dan hidup yang layak, hidup yang jauh lebih baik dari dirinya saat ini.
Tak heran mengapa banyak orang yang mengambil jalan pintas untuk menopang hidup sebagai pekerja malam. Apalagi wanita. Wanita, tak dapat dipungkiri memang memiliki pesona dalam keindahan dan sensualitas, sekalipun sifatnya abstrak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s