Endless Life…

Wahyu Ajeng Suminar, mungkin beberapa orang pernah mendengar nama ini. Atau bahkan tidak mengenal nya sama sekali. Maka akan ku perkenalkan siapa Wahyu Ajeng Suminar ini. Dia adalah sahabat ku yang telah berpulang ke pangkuan Allah. Karna penyakit Marfan’s Sindrom yang menjadi sahabat hidupnya hingga ia menutup usia.

Dia bukan dari keluarga kaya, ia cukup sederhana. Bahkan kehidupannya bisa terbilang sulit. Banyak sekali cobaan yang dihadapi dalam hidup nya. Mulai dari vonis penyakitnya, perceraian orang tua, dan meninggalnya kakak pertama. Tapi dia dan keluarga adalah sosok yang sangat tegar dan selalu berserah kepada Allah.

Manrfan’s Sindrome adalah sebuah penyakit langka yang belum ada obatnya. Ini adalah sejenis penyakit yang mereyang saraf yang menyebabkan pertumbuhan tak normal. Menyebabkan kebutaan juga bagi Ajeng sapaan akrabnya. Hingga kelainan jantung.

Aku berteman dengan Ajeng sudah lama sekali sampai akhirnya ia berpulang, banyak hal yang kita bicarakan, ceritakan dan kita diskusi kan. Ketika aku di kabarkan bahwa ia meninggal karena pecah nya pembuluh darah jantung, aku sedih bukan main. Merasa kehilangan sosok yang sangat memberi pelajaran tentang semangat dan ketegaran hidup. Ya, tapi mungkin dan aku yakin ini yang terbaik baginya.

Ajeng semasa ia hidup, ia terus memberi semangat. Ia tak ambil pusing bagi penyakitnya. Ia berteman cukup akrab dengan Marfan’s Sindrom. Ia menganggap Marfan’s Sindrom adalah teman yang akan diajaknya bergandengan tangan dan semoga bisa bersama-sama menua dengan nya.

Ajeng mempunyai bakat menulis sangat luar biasa. Ibunya adalah inspirasinya. Hingga saat ia telah menutup mata ia telah berhasil menerbitkan buku tentang perjuangan hidup seorang pengidap Marfan’s Sindrome. Sebuah buku tentang inspirasi kehidupan.

“ Matahari yang sama menerpaku dalam terik, dan menerangiku yang terkadang berkabut. Allahu Akbar!!
Selalu ada keputusan indah dari Dia yang maha tunggal.
Bagi kisah ku yang tak terpenggal, Bukankah sabar di balik lara adalah berbuah hikmah.
Dan syukur di balik bahagia adalah berbuah anugerah berganda. Sungguh cinta Nya tiada tercelah”

Salah satu pengalan kalimat dalam bukunya Ajeng. Terkadang aku memposisikan diri ku sebagai Ajeng. Membayangkan nya saja aku sudah tak mampu bagaimana aku hidup dalam keadaan yang seperti ini. Tak bebas bergerak. Ruang aktifitas ku terbatas karena penyakit yang ada. Tapi Ajeng mampu. Sungguh Tuhan telah menciptakan manusianya dengan kekuatan yang luar biasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s