Endless Life (part 2)

Wahyu Ajeng Suminar, nama indah yang diberikan pada sahabatku. “Suminar” yang berarti bersinar. Ia memang “bersinar” saat vonis penyakit yang normalnya membuat seseorang yang mengidapnya menjadi redup. Ia tak mau menjadi redup sejalan dengan penyakit marfan’s nya. Ini yang ku bangga kan dari Ajeng, selalu mensyukuri apapun yang terjadi. 

Begitu juga dengan ibunya, Ibu Wahyuni yang tak akan membiarkan anak nya terhayut dalam ratapan penyakitnya. Bu Wahyuni tetap memupuk harapan besar bahwa Ajeng ini akan menjadi sinar yang terang dalam keluarganya. Bu Wahyuni adalah seorang ibu yang menyayangi anaknya yang terkadang dengan cara yang tak dimengerti. Dan aku rasa semua ibu juga begitu. Seperti ibuku, menyayangi ku dengan cara yang terkadang ku anggap ibu ku keterlaluan, membatasi pergaulan ku, malarang ini dan itu. Tapi setelah dewasa aku sadar ibuku melakukan banyak hal yang bertolak belakang dengan keinginannku karena Ibuku tahu apa yang terbaik. Toh sekarang ketika aku sudah mampu berpikir sendiri ibu membiarkan ku untuk mengambil keputusan. Ibu mendidik ku dengan cara yang biasa saja, tapi dalam didikan itu terselip sebuah sikap tegar dan mandiri yang ibu hadirkan dalam diri ku.

Kembali pada Bu Wahyuni, dengan di vonis nya penyakit marfan’s ini. Bu Wahyuni sebisa mungkin selalu melihat hal-hal yang positif pada Ajeng. Ajeng punya bakat dalam menulis dan public speaking. Dengan keterbatasan yang Ajeng miliki ia bisa berhasil memenangkan beberapa lomba.

Ya keterbatasan Ajeng dalam penglihatannya. Ajeng mengalami low vision yang sangat parah. Bahkan mungkin aku bisa mengatakan bahwa ia buta. Akibat penyakit marfan’s yang menarik sarafnya dengan tidak normal hingga pada bagian matanya.

Ajeng sudah sering bolak balik rumah sakit, ntah karena kejang-kejang atau masalah pernapasan, atau jantung nya. Rumah sakit bagaikan rumah kedua baginya.

Orang sering kali berpikir bahwa rumah sakit adalah segaris lurus dan sebanding dengan kondisi traumatis. Tapi bagi Ajeng rumah sakit adalah bagian dari perjalanan hidupnya. Dinding-dinding rumah sakit ini menyimpan dengung suara dokter yang memvonisnya mengidap marfan’s sindrom.

Terlepas dari masalah penyakitnya Ajeng. Dan menurut ku ini adalah kisah pilu dari episode hidupnya Ajeng. Kakak pertamanya sebelum ia meninggal sangat berteman akrab dengan narkoba. Ibu nya sangat kewalahan saat kakak nya meminta uang untuk membeli obat-obatan haram itu. Ditengah biaya perawatan Ajeng yang membutuhkan biaya yang tak sedikit, kakak nya tiap hari meminta uang untuk membeli putaw. Sampai pada akhir nya, dan aku rasa titik kesabaran atau apalah tentang seorang ibu. Ibu Wahyuni membuat sekenario untuk memenjarakan anaknya sendiri. Memenjarakan anaknya sendiri!!! Ia berharap dengan di penjara anak pertamanya ini bisa terbebas dari penggunaan obat-obatan tersebut.

Tragis. Seorang Ibu yang memenjarakan anaknya. Tapi sekali lagi. Begitulah cara seorang ibu menyayangi anaknya. Terkadang dengan cara yang tak di mengerti.

Terlalu panjang jika aku menuliskan pertemanan ku dan cerita hidup dengan Ajeng. Terlalu panjang. Sungguh.

Sudah hampir setahun Ajeng berpulang. Begitu cepat waktu berlalu. Menulis ini membuat aku kembali pada cerita lalu. Saat mbak Dini (kakaknya Ajeng) menelpon ku mengabarkan kalau Ajeng meninggal. Aku terdiam lalu sedikit tawa terlepas. Bagaimana mungkin, kemarin Ajeng baru memberi SMS untuk aku tetap semangat.

“Semangat Ren. Kamu bisa. Kamu orang yang luar biasa. Kamu bisa meneruskan cita-cita ku yang tertunda”

Ini SMS terakhir dari Ajeng. Apakah kalimat “Kamu bisa meneruskan cita-cita ku yang tertunda” adalah firasat bahwa ia akan pergi?

Ibu Wahyuni memenjarakan anak lelaki tertuanya. Kisah pilu yang terlihat oleh ku. Kepergian Ajeng, membentuk kisah pilu dalam benak ku (lagi).

Ibu Wahyuni, di tengah perjalanan hidupnya, dia mengidap kanker mioma. Ia harus di operasi pengangkatan rahim. Ajeng, meninggal saat menunggu ibu Wahyuni operasi. Ia menunggu di luar, diatas kursi rodanya. Tiba-tiba ia terpingsan dan berangkat menghadap Tuhan.

Aku ga membayangkan bagaimana ibu Wahyuni ketika sadar dan mendapati bahwa anak yang memberi semangat untuk terus berjuang dan memperjuang kan mengahadap sang kuasa membawa serta rahimnya.

“ Mutiara yang selama ini ku jaga dan bersinar telah pergi tinggalkan ku. Pelangi nan indah pisah kan aku dan dia atas sekenario Mu. Tapi semangat yang membara terus hidup dan menyatu di nyawaku”

Potongan kalimat yang dirangkai dari hati bu Wahyuni. Seorang ibu yang tegar. Membesarkan enam orang anaknya sendiri. Perpisahannya dengan suami membuatnya menjadi wanita tangguh.

Wahyu Ajeng Suminar, nama yang berarti sinar terang itu telah meredup sebelum ia bersinar dengan sempurna. Tapi kobaran semangatnya masih bisa aku rasakan.

“ Ditebing hati seuntai sepi. Masih merayap dengan lirih serta perih..
Jurang-jurang kenyataan terjal dan curam, namun persaan tetap berjalan merangkul akal yang hampir lekang.
Tuhan, rasa ini Engkau yang menitipkan!
Peran ku ini Engkau yang mempercayakan!
Dan episode ini terjadi karena Engkau yang izinkan!
Sungguh di puncak kehendak Mu pasti terjadi hikmah untuk ku!
Bukankan Kau sedang melatih ku menjadi manusia tangguh? “

Penggalan kalimat yang Ajeng tuliskan, yang memberikan semangat di kala aku merasa Tuhan memberikan aku lika-liku hidup dengan cobaan yang tak bisa aku terima.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s