Kembali.

Tidak terasa, satu bulan sudah aku pulang. Dan ini saatnya untuk kembali. Menghadapi kota, dengan berbagai pergumulan yang sempat tersimpan sebentar.

Ayah dan ibuku mengantarkanku ke bandara, aku tidak ingin berlama-lama melihat wajah mereka. Bukan aku tidak menhargai kesempatan yang masih bisa aku nikmati, tapi aku takut bila tidak mampu menahan tangisku. Takut tidak bisa jadi apa-apa sekembalinya aku ke kota. Takut membuat kecemasanku bertambah.

Advertisements

Pulang.

Pulang. Dari dulu aku selalu bergumul dengan kata “pulang”. Teman-temanku bilang, aku adalah salah satu anak rantauan yang jarang pulang. Alasannya? Aku sudah lelah dan malas duluan membayangkan perjalannya. Dari Surabaya transit ke Jakarta. Jakarta lalu Jambi. Dari Jambi masih harus menempuh perjalanan kurang lebih lima sampai enam jam dengan travel dan melalui jalanan yang terus berkelok. Ini adalah perjalanan paling menyiksa, belum lagi kalau si supir kejar setoran, dihantamkannya belokan itu tanpa ampun. Continue reading “Pulang.”

Tuhan Menyapa.

Saya pikir tahun ini akan menjadi tahun yang menyenangkan dan membanggakan untuk karir saya, tapi ternyata tidak (Lagi-lagi mengeluh). Bukan tidak. Mungkin Belum. Beberapa waktu lalu, waktu saya mengakhiri kontrak kerja, saya merasa kedepannya akan sangat sulit. Melihat memang begitu kenyataannya. Susah mendapatkan pekerjaan yang sesuai karena berbagai faktor eksternal yang sulit untuk ditoleransi. Continue reading “Tuhan Menyapa.”

#29 Lebih Peka Soal Bahagia

Di postingan sebelumnya saya menulis dengan asal-asalan dan tidak terlalu bersemangat dengan penambahan usia #29 ini. Namun setelah saya melawati hari itu, banyak hal yang seharusnya saya syukuri. Tidak perlu terfokus pada hal yang jeleknya. Memang, jelang usia 29 ini perjalanan karir saya tidak bagus, pekerjaan sebagai Clinic Manager tidak berumur panjang. Hanya satu bulan lebih beberapa hari saja. Bukan karena kualitas kerja saya tidak baik atau perusahaan tak sehat, tapi ada satu dua hal yang sangat bertentangan dan tidak bisa saya toleransi, karena saya juga memikirkan kenyamanan pekerja senior atau orang-orang lama. Tapi setidaknya selama satu bulan itu saya boleh bersyukur, dipertemukan dengan orang-orang yang berpotensi untuk mengubah sedikit tentang sifat keras saya. Continue reading “#29 Lebih Peka Soal Bahagia”